Salah satu bagian yang menarik adalah: ketika sang beruang menceritakan tentang bagaimana tukang bersih-bersih kandangnya datang ke kebun binatang. Tukang bersih-bersih tersebut datang dengan pakaian seadanya, yang dapat mendatangkan rasa iba. Namun, begitu berganti pakaian, semuanya berubah. Ia menjadi culas dan penuh keangkuhan, memerintah--bahkan memukul--binatang di kandang seenaknya sendiri.
Bukan hanya bapak tersebut, sepertinya naluri seorang manusia memang seperti itu ketika memiliki kesempatan. Orang ingin menjadi lebih hebat di depan orang lain --atau di depan para binatang untuk kasus bapak tersebut. Orang ingin menjadi lebih hebat karena itu menyenangkan. Coba kau bayangkan jika kau punya kekuatan? Kau dapat memerintah orang lain, kau dapat memiliki apa yang kau ingin. Untuk memuaskan batinmu tentu saja. Jadi kau tak perlu repot. Menyenangkan tentu saja?
Bahkan, semenjak manusia belum mengenal tulisan, mereka sudah tahu bagaimana cara berkuasa. Mereka akan saling serang, yang pertama-tama karena makanan. Kemudian, beberapa ratus tahun kemudian, karena teritori. Masalah tersebut berlanjut hingga sekarang. Malahan, sekarang lebih banyak hal yang dapat dipermasalahkan untuk menunjukan kekuatan. Misalnya saja: saling serang antara pendukung pasangan calon presiden.
Lalu apa yang kau harapkan dari manusia supaya kehidupan ini membaik? Atau mungkin lebih baik aku ganti pertanyaannya menjadi seperti ini; lalu bagaimana membuat mereka sadar? Mengesalkan, bukan?
Terkadang saya juga gemas sendiri ketika membaca lini masa media sosial saya. Mereka lebih suka bertengkar daripada bertukar pikiran. Apakah meminta mereka untuk bertingkah seperti orang yang terdidik sudah usang? Kalau belum, ya, tolong ya.
Bagian lain buku ini masih berisi tentang cara si beruang memandang para manusia. Ia tak habis pikir bagaimana manusia merasa terkekang padahal berada di luar dan dapat melakukan apa saja, berbeda dengan dirinya. Bahkan sang beruang merasa lebih bebas hidupnya padahal ia tinggal di sebuah kandang. Kocak, kan?
Senin, 03 Desember 2018
Kamis, 04 Oktober 2018
34 Derajat
34 derajat di tempatmu tinggal. Tak apa. Orang-orang masih tetap membikin kebisingan di jalan, demi menyelesaikan segala macam keperluan.
34 derajat di tempatmu tinggal. Membuatmu berharap berada di mall untuk mendinginkan badan. Kau juga berharap di mall membawa banyak uang, biar dapat membeli sepatu adidas yeezy atau nike airmax seperti para pemuda kekinian.
34 derajat di tempatmu tinggal. Di antara teriknya hari, di dekat tempatmu merebahkan badan, terdengar obrolan tetangga, membicarakan hajatan orang.
Keteringnya tak enak, katanya.
34 derajat di tempatmu tinggal. Media sosial mengabarkan berita tentang kebohongan bekas aktivis perempuan, yang semakin memanaskan hari-hari menjelang pemilihan dua orang calon pimpinan.
34 derajat di tempatmu tinggal. Malika masih dirawat seperti anak sendiri oleh seorang petani, kata sebuah iklan.
Kamis, 23 Agustus 2018
Beberapa Waktu yang Lalu
Senin, 02 Juli 2018
Bagaimana Krisis Seperempat Abad Mengganggu Saya dan Teman-Teman Saya
Memang orang-orang bermental sampah itu berbahaya. Ia pergi kemana-mana dan mengedarkan bau yang tidak sedap, serta membikin orang-orang yang dekat dengannya dapat tertular. Kau harus cepat-cepat mandi dan mencuci bajumu ketika bertemu dengan orang-orang semacam itu, supaya bau tersebut dapat segera hilang dari tubuhmu.
Di luar isi statusnya, saya merasa ada ketidakbahagiaan di sana, dan sedang ia ungkapkan semuanya dalam bentuk status panjang. Dengan begitu, mungkin apa-apa yang mengganjal di dalam dadanya dapat segera lenyap (kalau saya tidak salah menyimpulkan).
Sebetulnya, banyak teman-teman saya merasakan apa yang sedang ia rasakan. Mereka sedang tidak baik-baik saja. Mereka sedang berada di dalam masa, dimana semua hal yang ada di dunia ini tak sama dengan apa yang mereka harapkan sebelumnya. Dulu mereka beranggapan bekerja dan memperoleh penghasilan sendiri itu menyenangkan, ternyata malah merepotkan. Dulu mereka beranggapan setelah menikah hidupnya semakin indah, ternyata tidak juga. Dan lain-lain dan lain-lain dan lain-lain.
Cara mereka untuk menumpahkan kekesalannya pun bermacam-macam, dan kebanyakan dari mereka menggunakan media sosial sebagai sasaran empuk. Ada yang menulis dengan berapi-api penuh kekesalan, ada yang membagi kalimat motivasi dan menjadi bijak, ada yang membadut dengan melempar lawakan-lawakan sehingga perasaan mereka menjadi lega. Dalam film fight club, tokoh utamanya memilih masuk dalam kelab adu gebuk untuk menghilangkan stres yang menderanya.
Tak berbeda jauh dengan teman-teman saya, saya juga merasakan hal yang sama. Saya selalu merasa ada sosok lain dalam diri saya, yang berusaha menguasai tubuh ini, untuk menjadi apa yang ia mau. Ia meminta saya melakukan ini dan itu, membikin saya susah untuk tidur. Ia menciptakan kecemasan dalam diri saya, menebar ketakutan ketika saya sedang tidak melakukan apa-apa. Sebetulnya, ketika sedang tidak melakukan apa-apa, saya hanya ingin beristirahat.
Jangankan orang seperti saya, banyak pesohor kelas dunia yang sedang dalam puncak karirnya pun mengalami hal serupa. Bahkan, mereka terkadang gagal melewati krisis tersebut, dan memutuskan mengakhirinya hidupnya, sebagai cara untuk menyelesaikan masalah yang sedang mereka alami. Kurt Cobain, misalnya.
Sekarang ini harapan saya sederhana: semoga hal menyebalkan semacam ini dapat segera berlalu.
Senin, 25 Juni 2018
Cara Mengirim Mayat dalam 24 Jam
Minggu, 08 April 2018
Obituari, Catur Budi
Kematian tak bisa diprediksi. Misalnya saja: John Lennon mati ditembak penggemarnya sendiri, atau atlet peraih medali emas olimpiade Sergei Ginikrov, yang mati saat latihan. Mereka mati mendadak diumur yang terbilang muda, mendahului orang-orang yang dari segi umur harusnya lebih dahulu menjemput ajalnya. Namun itulah yang terjadi.
Selain tak dapat diprediksi, kepergiannya meninggalkan duka buat orang-orang di sekitaran mereka.
Ketika kematian hadir pada orang yang dekat denganmu, kau akan merasa tak percaya dengan apa yang kau lihat, dan mungkin lebih lanjut lagi, menyesali kenapa kematian itu dapat terjadi. Hal tersebut wajar saja dilakukan oleh orang-orang yang merasa kehilangan.
Lalu timbul pertanyaan dan pernyataan untuk membayar rasa penasaran, seperti: mati kenapa? Masih muda, ya? Anaknya berapa? Anaknya masih kecil, ya? Istrinya kerja apa? Dan seterusnya dan seterusnya dan seterusnya.
Lalu apa lagi? Kehidupan terus berjalan, dan tak mungkin diisi dengan kesedihan yang berkepanjangan.
Yang saya ingat, Catur orang yang betul-betul setia kawan. Sewaktu SMA, ketika saya memiliki beberapa masalah --entah saya benar atau salah, ia akan datang membela. Dengan tersenyum ia akan meminta saya untuk menghadapinya, dan berjanji akan selalu berdiri dibelakang saya. Tentu saja Ini menambah kepercayaan diri saya.
Namun, beberapa tahun belakangan, kami jarang bertemu karena kesibukan. Saya terakhir kali bertemu dengannya ketika ia menikah, itupun hanya bertegur sapa sebentar. Setelah itu kami kembali ke kesibukan kami masing-masing hingga kabar kematiannya terdengar ditelinga saya.
Sempat ada slentingan, kalau menjelang lebaran bikin reuni kecil-kecilan, bersama kawan-kawan satu angkatan, untuk bertukar kisah dan kebahagiaan. Tapi, takdir memang tak bisa dilawan. Catur sudah pasti tak bakal datang.
Selamat jalan kawan. Kau salah satu orang baik yang pernah saya kenal.