Kamis, 23 Agustus 2018

Beberapa Waktu yang Lalu

Sesampainya di indekos, kau merebahkan badanmu, menatap layar ponsel. Ada begitu banyak chat di grup sosial mediamu. Lalu kau mencari handsfreemu di dalam tas, memasang dan menyalakan lagu-lagu tahun delapan dan sembilan puluhan, untuk membuang kebosananmu.

Dua hari yang lalu kau pergi dengan teman lamamu. Seperti biasanya, kalian meminum secangkir kopi dan bercanda dan sesekali mengobrol serius juga.
“Bagaimana rasanya dibalap? Aku sepertinya perlu belajar darimu,” tanyamu.
“Jodoh sudah diatur sama yang diatas, tak perlu risau,” jawabnya.
“Bijak sekali,” responmu. “Ngomong-ngomong aku salut dengan Lutfi. Kau tahu, kan, ia betul-betul mencintai istrinya. Ia rela menunggu istrinya berpacaran dengan orang lain terlebih dahulu, sebelum mereka menikah. Kisah cintanya mirip Florentino Ariza.”
“Tak usah berlebihan. Florentino Ariza menunggu 51 tahun 9 bulan 4 hari. Sedangkan Lutfi? Hanya beberapa bulan. Eh, sampai setahun enggak, sih?” bantahnya.
Kau tertawa.
“maksudku cara Lutfi mencintai istrinya, bukan durasi waktu menunggunya,” belamu.
Pukul sembilan lebih sedikit kalian pulang ke indekos masing-masing.

Kau mencoba bangun pagi, walaupun masih kesiangan juga, untuk mengejar kereta yang akan membawamu ke luar kota. Beruntung petugas stasiun baik hati, memberimu kelonggaran untuk masuk ke peron tanpa perlu menunjukkan identitas. Jadi larimu tidak sia-sia. Kau masih sempat mengejar kereta yang akan segera berangkat.
Ini bukan pertama kalinya kau berlarian karena beberapa bulan yang lalu kau juga hampir ketinggalan pesawat ketika hendak ke Bali.

Seperti biasa ketika kau pulang ke kota kelahiranmu, kau duduk-duduk bersama teman lamamu.
“Dalam hal pencapaian hidup, negara maju dan negara berkembang berbeda. Di negara maju, karir merupakan puncak pencapaian hidup. Di negara berkembang, pernikahan, lah, yang jadi patokan pencapaian hidupmu,” ucap salah seorang temanmu yang sering sial ketika menjalani pendidikan formal.
“Ah, itu hanya pembelaan dirimu karena masih belum punya pacar,” bantah temanmu yang lain.
“Eh, besok bagaimana jadinya? Ke Tegal naik apa?” tanyamu.
“Kita sewa mobil saja,” jawab temanmu.
“Kalau begitu kita ketemu di sana. Aku berangkat naik kereta. Pulangnya baru aku bareng kalian.”

Kau naik kereta pukul sembilan kurang. Di dalam kereta, kau menyempatkan diri melanjutkan bacaan yang sudah beberapa hari ini kau lewatkan. Karena rasa malasmu, cita-citamu untuk membaca dua buku setiap bulan saja sering gagal. Dan sekarang, kau kembali berusaha membuang rasa malasmu, supaya rasa bersalah karena sering bermalas-malasan tak menumpuk terlalu banyak.
Beberapa waktu kemudian salah seorang temanmu mengirim pesan. Ia mengatakan baru saja mengirim uang, menitipkan sumbangan karena tak bisa datang, dan memberi sedikit kelebihan untuk membeli rokok anak-anak yang berangkat ke Tegal. Kau berterima kasih kepadanya, lalu sesuai amanah temanmu, kau masuk ke alfamart untuk membeli rokok bungkusan.
Kau sempat mengumpat sebentar karena rokok di stasiun Tegal sedikit lebih mahal, lalu setelah itu segera berdamai dengan keadaan.

“Teman, besok kita bakar-bakar daging kurban di rumahku,” ucap salah seorang teman di dalam grup sosial mediamu.
“Kamis saja, aku sedang ada acara kampung,” respon temanmu yang lain.
“Kalau Kamis aku kerja, heuheu.”
Keputusannya adalah: kalian akan pesta daging kurban sebanyak dua kali.

Kau datang pada pesta yang pertama. Kau dan teman-temanmu membuat sate, mengobrol, bercanda, dan sore harinya, setelah kenyang, kalian bubar karena kesibukan. Kau sendiri harus berangkat lagi ke indekosmu karena esok harinya sudah harus kembali dengan rutinitasmu.

Sesampainya di indekos, kau merebahkan badan, memasang handsfree dan menyetel lagu-lagu tahun delapan dan sembilan puluhan.

0 komentar:

Posting Komentar