Bajingan pertama yang akan saya ceritakan kepada anda adalah Rozak. Ia setengah bos saya. Maksudnya begini: saya bukan pegawainya. Tidak setiap hari saya bekerja untuknya. Saya hanya sesekali membantunya mengurus beberapa hal, dan ia akan memberi upah layak untuk setiap apa-apa saja yang saya kerjakan. Karena alasan inilah saya pantas memanggilnya bos.
Permasalahannya adalah: saya sering repot dengan permintaannya yang seenaknya sendiri, dan aneh-aneh, tanpa bertanya apakah saya sanggup atau tidak, seperti kejadian dua minggu yang lalu.
Waktu itu saya sedang sibuk dengan pekerjaan, tiba-tiba saja ia menelepon.
“Kau dimana?” tanya Rozak. “Saya sudah mengirim uang ke rekeningmu, tolong bantu saya mengurus mayat bule asal Serbia ini.”
“Pak, saya belum pernah mengirim mayat. Yang betul saja, pak?”
“Tak apa. uangnya lumayan, lho. Habis kerja datanglah ke rumah. Saya akan menjelaskan lebih detailnya di rumah,”
Teleponnya segera ditutup.
Seusai bekerja saya tak langsung ke rumah Rozak. Alasan yang pertama karena saya masih ragu apakah akan menerima pekerjaan ini atau tidak. Sedangkan alasan yang kedua saya pengin makan terlebih dahulu karena sudah lapar.
Saya tidak peduli kalau ia menunggu. Ini bukan pekerjaan yang biasa buat saya, jelas saya harus mempertimbangkannya dengan matang. Saya tak ingin kerepotan hanya karena tak paham apa yang harus saya lakukan.
Untuk itu saya mengajak salah seorang teman untuk membahas permintaan Rozaq, sambil makan, dan setengah jam kemudian kami memutuskan untuk mengambil pekerjaan ini berdua. Kami sepakat pembagian bayarannya enam lima untuk saya dan sisanya boleh ia bawa pulang.
Setelah makan kami rampung dan pembagiannya cocok baru kami mengunjungi rumah Rozaq.
“Kenapa baru datang?” tanya Rozak setelah kami duduk di ruang tamunya.
“Saya dapat shift siang. Malam baru selesai.”
“Yasudah, tak apa. Ini ada bule mati karena kecelakaan tunggal. Tolong bantu saya mengurus surat-suratnya, supaya dapat dipulangkan.”
“kapan matinya?”
“Lima hari yang lalu. Kau tahu, kan, kalau saya punya kenalan orang Turkish Airways? Salah satu pegawai Turkish yang meminta tolong kepada saya untuk mengurusnya. Ternyata bule ini saudaranya,” terang Rozak. “Ini dokumennya. Kalau bisa secepat mungkin. Mereka sudah tidak sabar soalnya.”
Setelah menerima dokumen-dokumen dari Rozak, saya dan teman saya pulang ke indekos kami masing-masing.
Paginya, ketika matahari sudah mulai terik, saya dan teman saya berangkat menuju rumah sakit, untuk menjalankan tugas yang kami emban. Sebetulnya kami berencana datang lebih pagi. Tapi, berhubung kami berdua sama-sama terlambat bangun, akhirnya kami baru berangkat pukul setengah sepuluh.
Begitu sampai di rumah sakit, kami segera menyusuri ruangan-ruangan yang dipenuhi bau obat dan orang tidak sehat, hingga sampai ke kamar mayat.
Saya merasa mual ketika melihat kondisi mayat tersebut. Ini pertama kalinya saya melihat mayat korban kecelakaan (walaupun tubuhnya sudah dibersihkan tetap saja saya merasa mual). Karena tidak tahan, saya segera ke kamar mandi dan muntah-muntah di sana, lalu pergi ke kantin memesan teh panas untuk menghilangkan rasa muntahan di lidah dan menghangatkan badan.
Sebetulnya saya tak habis pikir bagaimana cara bapak atau ibu petugas kamar mayat dapat bertahan selama bertahun-tahun tanpa rasa takut. Apakah mereka tak pernah merinding ketika berada di kamar mayat sewaktu malam hari? Mungkin mereka punya pegangan atau apa, sehingga tubuhnya kebal dan tak pernah diganggu setan.
“Bagaimana?” tanya kawan saya sambil mengumbar senyum hinaan, ketika menghampiri saya di kantin rumah sakit.
“Sudah baikan. Bangsat memang si Rozak, permintaannya selalu saja aneh-aneh,” umpat saya.
Teman saya hanya menanggapi dengan tawa.
“Tapi, kan, kau butuh uangnya?”
“Tentu saja. Mana mungkin saya mau menolongnya melakukan hal ini dengan cuma-cuma?” jawab saya dengan ketus.
Teman saya kembali tertawa.
“Eh, apakah saya sudah cerita tentang kiriman paket berisi tas dari Australia?”
“Belum,” jawabnya. “Memang ada apa?”
“Tiga hari yang lalu, ketika saya dapat shift tiga, saya menemukan sabu-sabu di dalam tas tersebut.”
“Yang betul?”
“Serius. Kejadiannya malam, sekitar setengah dua belas,” cerita saya. “Karena malas, saya ngomong sama Hari, orang bea cukai itu: ‘bagaimana kalau sampel saja yang di scan? Sudah malam ini pak, saya ngantuk.’ Karena kami berdua sama-sama sudah mengantuk, ia menyetujui permintaan saya. Dari dua puluh empat tas yang saya lupa mereknya itu, hanya satu yang kami scan, dan tas tersebut berisi sabu-sabu.”
“Lalu tas lainnya?”
“Hanya tas itu yang ada isinya. Yang lain kosongan seperti tas baru pada umumnya. Apa jadinya coba kalau kami salah scan tas? Lolos itu narkoba.”
“Palingan, kalau bandarnya tertangkap, kau dan pak Hari bakalan dicari polisi untuk dimintai keterangan.”
“Betul. Aku harus bolak-balik ke kantor polisi, ma-las se-ka-li!”
“Lalu alamat tujuannya ke mana?”
“Di Denpasar. Aku lupa detailnya. Kalau dari namanya, sih, orang Jawa.”
Setelah minuman saya tandas, kami mendatangi bagian administrasi, mengurus dokumen-dokumen kepulangannya, serta meminta tolong mereka untuk membuatkan peti mati seukuran mayat tersebut.
“Untuk mengambil jenazah ini, perlu ada surat dari kantor polisi. Soalnya jenazah meninggal karena kecelakaan, bukan kematian wajar seperti yang lain-lain,” terang orang administrasi yang saya lupa namanya.
“Iya, habis dari sini saya akan ke kantor polisi buat mengurus surat tersebut. Saya minta tolong dibantu, pak. Surat dari kantor polisi nanti saya susulkan. Yang penting jenazahnya dapat segera di angkut sekembalinya saya dari kantor polisi,” mohon saya, karena sudah tak sabar ingin segera kelar. “Apakah peti jenazah buat mengangkut bisa selesai hari ini?”
“Saya usahakan nanti sore sudah bisa diambil.”
“Terima kasih, pak.”
Kami segera menuju kantor polisi.
Sesampainya di kantor polisi, kami dibawa ke sebuah ruangan, tempat duduk kepala bagian yang mengurusi kecelakaan.
“Jadi, siapa namanya? Igor Savicevic, ya? Mau dipulangkan ke rumahnya, ya?” tanya bapak polisi yang duduk di hadapan kami, tanpa menunggu jawaban dari kami. Ia membolak-balik dokumen yang saya bawa. “Dokumennya lengkap kok. Nanti salah satu dari kalian isi data-data di depan, ya. Untuk pengantar pengambilan jenazahnya, ya.”
“Iya, pak.”
Kami memutuskan untuk kembali ke kantor. Kalau saya sih, tak begitu peduli. Tapi, kawan saya tak ingin membolos. Oleh sebab itu, setelah dokumennya selesai dibikin, kami ke kantor terlebih dahulu walaupun telat, untuk melanjutkan pekerjaan harian yang sempat kami tinggalkan, dan meneruskan misi mengirim mayat sepulang kerja.
Saya sudah tidak begitu peduli dengan urusan kantor tempat saya bekerja karena tak kerasan lagi. Sebetulnya dulu saya orang yang bersemangat. Semua pekerjaan saya selesaikan dengan baik. Tetapi, beberapa bulan belakangan, karena beragam hal, termasuk kebijakan-kebijakan manajemen yang membikin geleng-geleng kepala, semangat saya untuk bekerja semakin menurun. Selain itu, ketika saya melakukan pekerjaan lebih baik dari orang lain, saya juga tak memperoleh apa-apa. Permintaan saya untuk menjadi pegawai tetap juga tak digubris.
Lalu, apa alasan saya untuk giat bekerja? Sekarang saya lebih sering menolak permintaan atasan untuk tukar shift atau lembur, karena itu hal yang melelahkan. Lagipula sekarang tak ada alasan untuk menerimanya. Jadi, diberi surat peringatan juga tidak apa-apa.
Tunggu-tunggu, kenapa saya malah cerita pekerjaan saya? Sebentar, saya lanjutkan, ya.
Setelah selesai bekerja, saya dan teman saya kembali ke rumah sakit. Sebelumnya saya sudah memberi kabar kepada orang administrasi rumah sakit lewat telepon, kalau mayat bule itu akan kami bawa ke bandara pada malam hari. Memang itu di luar kebiasaan mereka. Tapi, setelah memberi penjelasan tentang keadaan kami yang harus bekerja terlebih dahulu, akhirnya mereka memaklumi permintaan kami.
Ketika tiba di rumah sakit, mayat bule tersebut sudah siap dikirim. Dokumen pemetian dan dokumen pengawetan dan sertifikat medis kematian juga sudah jadi. Selain itu, mobil ambulan yang digunakan untuk membawa mayat tersebut juga sudah siap. Saya segera mengucap terima kasih kepada orang-orang bagian administrasi, karena sudah sangat baik kepada kami, dan segera berangkat tanpa menunggu terlalu lama lagi.
Sesampainya di bandara, kami menitipkan mayat tersebut di gudang kargo, lalu menuju ke rental video game, mendatangi kawan kami yang sudah menunggu di sana. Rencana kami memang seperti itu. Perkara mengirim mayat akan kami lanjutkan keesokan paginya, karena tawaran pertandingan sepakbola tak sepatutnya di tolak oleh siapa saja.
Setengah empat, ketika langit masih gelap, ketika kami hendak pulang dari rental video game, setelah beradu argumen dengan kawan saya terkait masalah mayat bule tersebut, saya memutuskan untuk pergi ke ruang karantina saat itu juga, supaya mayat tersebut dapat segera diterbangkan sehingga urusan kami dengan Rozak cepat usai.
“Ini belum pagi,” cegah teman saya.
“Ruang karantina, kan, buka dua puluh empat jam? Saya akan mengantarmu balik ke indekos, setelah itu saya akan mengurusnya sendiri.”
“Tak apa?”
“Tak apa, tenang saja.”
Saya mendatangi ruang karantina ketika petugas jaga sedang tidur. Saya mencoba membangunkan petugas karantina dengan sopan, supaya tak membuatnya naik darah. Petugas tersebut lantas terbangun, memandang wajah saya dengan tampang malas dan tanggapan dingin. Saya hanya tersenyum sambil mengucap permintaan maaf.
“Datangmu kurang pagi,” kata salah satu penjaga ruang karantina yang saya bangunkan.
“Maaf pak,” jawab saya. “Saya pengin urusan saya dengan mayat ini cepat kelar, biar bisa segera istirahat.”
Karena tak enak kalau langsung pergi, saya mengobrol banyak di ruang karantina, bersama dua orang petugas yang membantu saya mengurus surat ijin terbang. Saya lupa apa yang kami perbincangkan karena saat itu saya sudah sangat lelah dan mengantuk, membikin susah buat berkonsentrasi. Sepertinya kami mengobrol tentang tingkah orang-orang yang kami kenal di sekitaran bandara. Sepertinya memang itu yang kami bicarakan.
Selang beberapa waktu, saya mohon diri dan mendatangi konter air waybill, supaya mayatnya dapat segera diberangkatkan.
Saya meninggalkan dokumen-dokumen di atas meja orang-orang yang mengurus air waybill, tanpa perlu menjelaskan, karena mereka sudah paham apa yang saya butuhkan kalau mendatangi mereka. Setelah mengucap terima kasih saya bergegas menuju ke tempat parkir yang sunyi walaupun penuh kendaraan, untuk segera pulang ke indekos dan bolos kerja, karena mata saya sudah berat.
“Ini masalah jenazahnya sudah beres, pak. Berangkat pukul setengah satu siang,” ucap saya di telepon setelah keluar dari konter air waybill.
“Cepat sekali,” ucap Rozak dengan senang. “Tak salah aku minta tolong kepadamu.”
Sesampainya di indekos, saya menyalakan musik yang ada di laptop, lalu memejamkan mata.
Aku tak menangisimu huhuhu. Ku masih bisa tertawa hahaha.
Sambil diiringi musik, saya tertidur, tanpa berpikir apakah mayat itu sampai tujuan atau tidak.
0 komentar:
Posting Komentar