Rabu, 15 Juli 2015

Kisah Hujan dan Kebetulan



1
Kisah hujan bagi sebagian orang bukan hal yang penting, bahkan, mungkin kau pun juga tidak menyadarinya.
Kurasa orang-orang menganggap hujan seperti sebuah angin. Ketika datang secara berlebih, mereka akan mengumpat hingga urat lehernya nampak jelas dengan mata telanjang; karena kedatangannya merusak semua. Saat itu, orang-orang akan mulai saling beradu mulut. Pemerintah akan menyalahkan rakyat yang berbuat seenaknya merusak lingkungan, sedangkan rakyat akan mengolok-olok pemerintah sebab tidak becus mengurus negara. Mereka akan terus dan terus menyalahkan hingga bosan, dan musibah itu lenyap ditelan waktu dengan sendirinya.
Awalnya aku juga beranggapan sama. Hujan hanya sebuah fenomena alam biasa seperti siang, malam, kelahiran, ataupun kematian. Hujan adalah sebuah kejadian normal dimana air di permukaan bumi menguap, kemudian setelah cukup lama berada di langit dan penuh, air itu akan tumpah dan mengguyur permukaan bumi. Terkadang deras, terkadang rintik, sesuai dengan suasana hati si air itu sendiri.
Namun karena kejadian bertahun silam, kurasa hujan memberiku sebuah kisah yang akan tertanam di dalam kepalaku sepanjang waktu, hingga malaikat pencabut nyawa datang dan menyeretku pergi meninggalkan dunia ini. Serius. Hingga sekarang pun masih terbayang dengan gamblang, bahkan secara runtun. Deretan cerita pada masa lalu, yang memberi warna tersendiri bagi kehidupanku yang mungkin biasa-biasa saja ini.
Kalau tidak salah saat itu pertengahan Januari….
Pagi hari dimana seharusnya orang-orang memulai hari baru dengan kebahagiaan, aku malah bertengkar hebat dengan Bening karena masalah sepele walaupun baginya mungkin tidak. Dia ingin segera meresmikan hubungan kami kejenjang yang lebih serius misalnya pelaminan, atau paling tidak kami bertunangan. Namun, aku tidak setuju dengan pendapatnya sehingga kami harus saling berdebat, sebelum akhirnya aku pergi meninggalkannya dengan alasan harus bertolak ke kantor segera.
“Ayolah! aku sudah mengatakan kepada orang tuaku kalau kita akan segera meresmikannya,” pinta Bening.
“Aku berangkat, takut terlambat,” kilahku lalu meninggalkannya.
Hujan yang selalu hadir setiap bulan Januari tanpa pernah absen setiap hari saat itu datang lebih awal dari hari-hari biasanya. Sekitar setengah tujuh pagi, hujan telah membasahi seisi kota. Karena tidak memiliki mobil pribadi, aku memilih menggunakan bus daripada motor roda duaku, dan berjalan kaki hingga jalan raya membawa sebuah payung; dengan gambar bayi dan bertuliskan ucapan terima kasih. Aku tidak ingin menunggu hujan reda karena itu berarti harus mendengar lebih banyak omong kosong Bening tentang masa depan dan sebuah keluarga dan bulan madu dan bla-bla-blaa lainnya.
Aku mengenakan kemeja abu-abu dan celana hitam, sepasang sandal dan sebuah tas, yang berisi sepatu dan leptop. Aku berjalan perlahan, menikmati jalanan yang basah sedari pagi, dan berharap keinginan Bening untuk menikah ikut mengalir pergi menuju hilir bersama hujan.
Selalu kukatakan kepadanya bahwa aku belum siap. Tetapi, dia juga selalu meyakinkanku dengan pelbagai argumen yang terkadang bahkan terkesan dibuat-buat dan itu-itu saja sehingga membuatku jengkel. Pernah suatu kali, saat kami sedang makan malam bersama, dia berucap kalau mengharapkan dua orang anak dari hubungan kami. Aku mengatakan kalau aku belum sanggup menikahinya karena perekonomianku saat itu masih tergagap. Dia, dengan entengnya dan tanpa berpikir panjang tentunya, menyuruhku merampok sebuah bank. Bahkan, dia berujar akan membantuku merampok kalau itu memang diperlukan. Kuanggap itu sebuah goyonan. Sebab kalau tidak, aku sudah melaporkannya ke pihak berwajib.
Aku melangkah sambil memandangi jalanan, melihat anak-anak berangkat sekolah dengan riang, melihat para pegawai dengan tampang lelah walaupun baru berangkat kerja, serta menonton orang-orang melakukan aktifitas lainnya dengan roman campur aduk. Sesekali aku melompat, menghindari genangan air yang sering membanjiri rumah-rumah penduduk tanpa ijin.
Beberapa langkah sebelum aku sampai ke halte terdekat, tampak di ujung mata seseorang masuk ke dalam bus trans kota dan kemudian bus itu pergi meninggalkanku. Aku mencoba berteriak walaupun sudah pasti tidak akan didengar oleh sang supir. Tetapi, aku tidak berlari mengejarnya karena akan sia-sia. Lagi pula jalanan becek.
Dibalik semua itu, sebenarnya dalam benakku ada rasa penasaran dengan orang yang baru saja masuk ke dalam bus. Orang yang tampak seumuran denganku, rasanya aku pernah mengenalnya beberapa tahun silam. Wajahnya mirip dengan teman sekolahku yang merepotkan dan pembuat onar.
Kejadian ini begitu cepat berkelebat tanpa memberiku waktu untuk berpikir barang sejenak.
Aku lalu melanjutkan langkah masuk ke dalam bangunan halte. Di sana sudah duduk seorang laki-laki paruh baya yang memeriksa sekaligus menjual tiket, dengan tampang yang tidak begitu bersemangat dan terlihat bosan.
“Berapa tiketnya?” tanyaku.
“Tiga ribu,” jawabnya dengan ketus.
“Ini.”
Aku menyerahkan uang lima ribuan. Penjaga itu lantas memberiku tiket serta kembalian, lalu mempersilahkanku menunggu bus yang akan datang selanjutnya; dengan air muka yang membuatku ingin memukulnya. Beruntung aku berdiri di tempat umum, ada rasa tidak enak kepada orang-orang yang lewat kalau terjadi keributan.
Kutunggu kedatangan bus seorang diri, lalu datang satu dua hingga tiga orang ikut mendiami bersamaku. Di dalam ruangan yang cukup sempit sebagaimana halte pada umumnya, kami tak bertegur sapa. Tidak ada satu patah kata pun terucap dari mulut kami karena memang tidak kenal satu sama lain, hingga bus yang kami tunggu datang dan membawa kami pergi bersama.
Bumi ini masih diguyur hujan ketika aku sampai di depan kantor. Supaya lebih cepat sampai, aku sedikit berlari kecil menerjang hujan dan genangan air dengan menanggalkan payung yang aku bawa karena letak kantor dekat dengan halte. Di depan kantor, aku bertemu dengan Amat yang juga baru saja sampai, dan bertegur sapa seperti hari-hari sebelumnya. Mungkin bedanya adalah dia menanyaiku apakah aku kehujanan. Aku ingin menjawab, “Tentu saja bodoh!” namun, saat mengucapkannya kuganti dengan kalimat “Tidak.”
“Jelas-jelas tubuhmu basah,” sangkalnya.
“Kenapa masih tanya?”
Amat tertawa dan setelah itu berkata, “Ayo masuk ke dalam.”
Walaupun aku menyebutnya kantor, sebenarnya tempat itu hanyalah sebuah rumah kontrakan tipe tigaenam yang sedikit dirombak supaya dapat disebut begitu. Untuk meyakinkan, di depan dipasang nama kantor dengan ditambahkan ijin dari departemen keuangan dan nomornya. Kurasa ini lebih dari sekedar cukup untuk meyakinkan orang-orang.
Pak Jarot Sastroadmojo, bosku, dia yang merubah rumah kosong itu menjadi sebuah kantor akuntan publik dan membuat orang-orang datang mengeluh tentang masalah keuangannya. Dia juga yang membayar aku, Amat, Mbak Elok, serta Resik setiap bulannya, sehingga mau tidak mau kami harus mengikuti apa yang dia perintahkan.
Selepas pukul delapan pagi, Pak Jarot datang dan mengatakan kepada kami untuk segera menyelesaikan audit tiga berkas laporan keuangan. Dengan kalimat-kalimat penuh semangat seperti biasanya dia menjelaskan apa saja yang harus kami lakukan, dan setelahnya mengajak pergi Resik walaupun bukan untuk sebuah kencan. Mereka harus menghadiri sebuah sidang seorang pedagang ayam yang menggelapkan pajak. Memang biasanya Resik yang diajak oleh Pak Jarot karena dia yang paling pintar diantara kami. Lagi pula, dengan kacamatanya yang super tebal, itu akan lebih meyakinkan para penyidik.
Kami yang tinggal di kantor –kecuali Mbak Elok sebab dia duduk di bagian administrasi (atau lebih baik kusebut Aku dan Amat karena akan lebih mudah dipahami), mulai bekerja hingga siang hari. Hingga Pak Jarot dan Resik pulang dan mengajak kami makan siang.
“Ayo?” ajak Amat.
“Aku selesaikan ini dulu.”
“Yakin mau kami tinggal?”
“Pergilah!”
“Aku suka semangat kerjamu. Tapi ini sudah waktunya makan,” ucap Pak Jarot.
“Iya, aku nanti makan di depan saja Pak, tanggung.”
“Terserah kalau itu maumu.”
Mereka lalu pergi meninggalkanku dengan tumpukan angka-angka yang tidak dapat aku bayangkan sebanyak apa kalau angka itu menjadi uang dan hadir di depanku.
Hanya beberapa menit seusai mereka pergi, kepalaku sudah pening dengan angka-angka yang kurasa berubah menjadi sesuatu hal yang tidak aku pahami. Berubah menjadi bentuk-bentuk baru dan mulai berkeliling di atas kepalaku dengan sangat cepat, lalu melambat hingga berhenti, dan aku tetap tidak paham angka apa itu.
Aku berhenti dan melihat langit-langit dan tembok. Entahlah, aku sendiri tidak paham kenapa aku melakukan ini dan apa hasilnya. Yang jelas, ketika aku berhenti membaca angka-angka tersebut, rasa pening di kepalaku dalam sekejap lenyap. Kusandarkan punggungku dan kusilangkan tangan di tengkukku, seperti tukang siomay keliling yang sedang beristirahat di pos satpam komplek perumahan di hari yang terik dan membikin gerah.
Tiba-tiba dalam pikiranku muncul begitu saja sosok orang yang kulihat di halte, namun tidak berkeliling ataupun berubah bentuk. Aku hanya mengingat-ingat wajah itu dan mencocokannya dengan nama yang pernah kukenal sebelumnya. Setelah berpikir cukup lama dan mengetuk-ketuk meja dengan jari telunjuk tangan kananku, akhirnya aku menemukan nama yang pas dengan sosoknya.
Kecu.
Aku lupa nama aslinya. Setahuku, kami, teman-teman SMA memanggilnya dengan sebutan seperti itu. Seperti kata Shakespeare apalah arti sebuah nama, Kecu menikmati sebutan barunya, tatkala kami baru beberapa hari menginjakan kaki di sekolah. Dan karena Kecu suka dengan sebutan barunya, itu berarti kami tidak melakukan sebuah tindakan kriminal. Ini bukan masalah pencemaran nama baik yang akan menyeret kami ke pengadilan.
Setelah nama itu, yang muncul selanjutnya adalah nama-nama lain dan kejadian-kejadian yang pernah kami lakukan bersama. Muncul cerita-cerita saat kami bermain sepak bola, membolos pada hari Selasa, berhutang di kantin sekolah, berkelahi dengan kakak atau adik kelas, dan masih banyak lagi yang begitu cepat berganti dalam pikiranku. Dibalik itu semua, terkadang Kecu menjadi dalangnya.
Bibirku mengembang tipis karena teringat hal yang lucu. Setelah adegan lucu yang mungkin tidak lucu apabila kuceritakan kepadamu, otakku kembali kosong. Kenangan tentang masa lalu telah pergi dan waktu itu aku kembali melihat laporan keuangan yang dipenuhi angka-angka dan hampir tak sadarkan diri saking peningnya.
Aku beranjak dari tempat duduk, pergi menjauh dari laporan keuangan dan keluar mencari makan di warung Mak Slamet yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kantor. Sebenarnya warung Mak Slamet biasa-biasa saja, entah bangunan atau rasanya. Tapi, yang membuatku heran, warungnya selalu ramai dipenuhi para pemakan yang tampak sangat beringas dan saling berebut supaya dapat dilayani lebih cepat dari yang lain. Amat pernah bercerita kepadaku kalau Mak Slamet menggunakan semacam pesugihan dan aku tidak percaya kepadanya.
Sebenarnya ada dua alasan utama yang membuatku tidak percaya: yang pertama Mak Slamet sampai saat itu belum kaya setelah hampir sepuluh tahun berjualan, sedangkan yang kedua adalah karena Amat yang bercerita dan semua hal yang Amat ceritakan selalu meragukan. Jadi kalimat yang Amat utarakan kepadaku tidak berdampak apapun terhadap pemikiranku tentang warung Mak Slamet dan hingga hari ini aku masih sering datang ke sana.
Hal yang paling masuk akal untuk menjelaskan kenapa warung itu selalu ramai adalah anak dari Mak Slamet, yaitu Wangi. Wangi menurutku selalu menjadi daya tarik tersendiri: dengan tubuh yang seksi dan pakaian ketat, membuat mata para lelaki jelalatan memandang buah dada atau pantatnya dengan ekspresi wajah yang mesum, seperti anjing yang sedang birahi. Kadang-kadang aku mendengar obrolan mereka tentang Wangi, dengan kalimat sarkastik dan merendahkannya. Bukan sebagai seorang manusia yang sejajar dengan laki-laki, melainkan, hanya sekedar pelengkap kehidupan lelaki.
Setelah mengakhiri makan siangku dengan tergesa karena harus bergantian dengan pengunjung lain aku kembali menuju kantor, sambil menghisap rokok yang aku beli eceran di warung Mak Slamet tadi. Sesampainya, mereka sudah datang dan kantor itu kembali berisik. Mereka (kecuali Pak Jarot tentunya karena dia bukan tipe orang yang suka omong kosong) sudah mengobrol ke mana-mana diselingi dengan tawa ketika aku datang. Mbak Elok sebagai sang juru cerita berhenti sejenak sewaktu melihatku, lalu mengajak ikut bergabung dalam lingkaran omong kosong yang mereka buat.
“Sini duduk!” perintahnya.
Aku menjawab tanpa kata, melainkan dengan gestur tubuh yang langsung duduk di tempat yang memang sudah mereka sediakan untukku. Mau bagaimana lagi, otakku sudah mati rasa untuk membaca laporan keuangan. Lebih baik aku ikuti permainan obrolan mereka dan melupakan laporan keuangan yang mengganggu dan berharap esoknya otakku sudah mau diajak kompromi.
Pada pukul setengah tiga siang kami semua duduk di ruang rapat bersama Pak Jarot, memberi laporan apa yang kami lakukan seharian, dan setelah itu ia mempersilahkan kami pulang. Namun, perintahnya untuk segera pulang kami tidak hiraukan, karena kami sudah berjanji untuk pergi ke kedai kopi tempat biasa kami duduk bersama, kecuali Resik yang sudah ada janji dengan orang lain sore itu. Kami bertiga naik mobil tua angkatan delapanpuluh dan tak terurus milik Amat dan berjalan menuju kedai kopi yang sudah dijanjikan.
Jalanan yang kami lalui masih basah dan langit belum juga cerah walaupun hujan sudah mandek. Anak-anak yang berjalan pulang dari sekolah memegang payung tertutup di tangannya, pengendara sepeda motor berhati-hati di jalan karena takut terpeleset, dan ibu-ibu –yang walaupun hujan turun hingga menjelang siang masih saja pergi ke pasar dan pulang membawa barang belanjaan yang mungkin lebih berat dari tubuhnya– berseliweran di jalan. Mungkin hanya tsunami atau bencana alam lain yang mampu membuat mereka menghentikan rutinitasnya.
Tak cukup lama kami sudah sampai di lokasi. Kalau pergi lebih jauh lagi, mungkin aku akan muntah-muntah dan membaui ruang dalam mobil Amat. Bayangkan saja, di dalam mobil itu pengharumnya sudah habis dan entah berapa lama tak diisi lagi, ac-nya tidak dingin, kulit kursi yang kami duduki sudah usang dan bau keringat. Saat mobilnya berjalan, terdengar suara besi yang berdecit dari depan dan belakang. Untungnya setelah beberapa lama menderita, aku dan Mbak Elok bisa turun dalam keadaan sehat walafiat.

0 komentar:

Posting Komentar