1
Kisah hujan bagi sebagian
orang bukan hal yang penting, bahkan, mungkin kau pun juga tidak menyadarinya.
Kurasa orang-orang
menganggap hujan seperti sebuah angin. Ketika datang secara berlebih, mereka
akan mengumpat hingga urat lehernya nampak jelas dengan mata telanjang; karena kedatangannya
merusak semua. Saat itu, orang-orang akan mulai saling beradu mulut. Pemerintah
akan menyalahkan rakyat yang berbuat seenaknya merusak lingkungan, sedangkan
rakyat akan mengolok-olok pemerintah sebab tidak becus mengurus negara. Mereka
akan terus dan terus menyalahkan hingga bosan, dan musibah itu lenyap ditelan
waktu dengan sendirinya.
Awalnya aku juga
beranggapan sama. Hujan hanya sebuah fenomena alam biasa seperti siang, malam,
kelahiran, ataupun kematian. Hujan adalah sebuah kejadian normal dimana air di permukaan
bumi menguap, kemudian setelah cukup lama berada di langit dan penuh, air itu
akan tumpah dan mengguyur permukaan bumi. Terkadang deras, terkadang rintik,
sesuai dengan suasana hati si air itu sendiri.
Namun karena kejadian
bertahun silam, kurasa hujan memberiku sebuah kisah yang akan tertanam di dalam
kepalaku sepanjang waktu, hingga malaikat pencabut nyawa datang dan menyeretku pergi
meninggalkan dunia ini. Serius. Hingga sekarang pun masih terbayang dengan
gamblang, bahkan secara runtun. Deretan cerita pada masa lalu, yang memberi
warna tersendiri bagi kehidupanku yang mungkin biasa-biasa saja ini.
Kalau tidak salah saat
itu pertengahan Januari….
Pagi hari dimana
seharusnya orang-orang memulai hari baru dengan kebahagiaan, aku malah bertengkar
hebat dengan Bening karena masalah sepele walaupun baginya mungkin tidak. Dia
ingin segera meresmikan hubungan kami kejenjang yang lebih serius misalnya
pelaminan, atau paling tidak kami bertunangan. Namun, aku tidak setuju dengan
pendapatnya sehingga kami harus saling berdebat, sebelum akhirnya aku pergi
meninggalkannya dengan alasan harus bertolak ke kantor segera.
“Ayolah! aku sudah
mengatakan kepada orang tuaku kalau kita akan segera meresmikannya,” pinta
Bening.
“Aku berangkat, takut
terlambat,” kilahku lalu meninggalkannya.
Hujan yang selalu hadir
setiap bulan Januari tanpa pernah absen setiap hari saat itu datang lebih awal
dari hari-hari biasanya. Sekitar setengah tujuh pagi, hujan telah membasahi seisi
kota. Karena tidak memiliki mobil pribadi, aku memilih menggunakan bus daripada
motor roda duaku, dan berjalan kaki hingga jalan raya membawa sebuah payung;
dengan gambar bayi dan bertuliskan ucapan terima kasih. Aku tidak ingin
menunggu hujan reda karena itu berarti harus mendengar lebih banyak omong
kosong Bening tentang masa depan dan sebuah keluarga dan bulan madu dan
bla-bla-blaa lainnya.
Aku mengenakan kemeja
abu-abu dan celana hitam, sepasang sandal dan sebuah tas, yang berisi sepatu
dan leptop. Aku berjalan perlahan, menikmati jalanan yang basah sedari pagi, dan
berharap keinginan Bening untuk menikah ikut mengalir pergi menuju hilir
bersama hujan.
Selalu kukatakan kepadanya
bahwa aku belum siap. Tetapi, dia juga selalu meyakinkanku dengan pelbagai
argumen yang terkadang bahkan terkesan dibuat-buat dan itu-itu saja sehingga membuatku
jengkel. Pernah suatu kali, saat kami sedang makan malam bersama, dia berucap
kalau mengharapkan dua orang anak dari hubungan kami. Aku mengatakan kalau aku
belum sanggup menikahinya karena perekonomianku saat itu masih tergagap. Dia,
dengan entengnya dan tanpa berpikir panjang tentunya, menyuruhku merampok
sebuah bank. Bahkan, dia berujar akan membantuku merampok kalau itu memang diperlukan.
Kuanggap itu sebuah goyonan. Sebab kalau tidak, aku sudah melaporkannya ke pihak
berwajib.
Aku melangkah sambil memandangi
jalanan, melihat anak-anak berangkat sekolah dengan riang, melihat para pegawai
dengan tampang lelah walaupun baru berangkat kerja, serta menonton orang-orang
melakukan aktifitas lainnya dengan roman campur aduk. Sesekali aku melompat,
menghindari genangan air yang sering membanjiri rumah-rumah penduduk tanpa ijin.
Beberapa langkah
sebelum aku sampai ke halte terdekat, tampak di ujung mata seseorang masuk ke
dalam bus trans kota dan kemudian bus itu pergi meninggalkanku. Aku mencoba
berteriak walaupun sudah pasti tidak akan didengar oleh sang supir. Tetapi, aku
tidak berlari mengejarnya karena akan sia-sia. Lagi pula jalanan becek.
Dibalik semua itu,
sebenarnya dalam benakku ada rasa penasaran dengan orang yang baru saja masuk
ke dalam bus. Orang yang tampak seumuran denganku, rasanya aku pernah mengenalnya
beberapa tahun silam. Wajahnya mirip dengan teman sekolahku yang merepotkan dan
pembuat onar.
Kejadian ini begitu
cepat berkelebat tanpa memberiku waktu untuk berpikir barang sejenak.
Aku lalu melanjutkan
langkah masuk ke dalam bangunan halte. Di sana sudah duduk seorang laki-laki paruh
baya yang memeriksa sekaligus menjual tiket, dengan tampang yang tidak begitu
bersemangat dan terlihat bosan.
“Berapa tiketnya?”
tanyaku.
“Tiga ribu,” jawabnya
dengan ketus.
“Ini.”
Aku menyerahkan uang
lima ribuan. Penjaga itu lantas memberiku tiket serta kembalian, lalu
mempersilahkanku menunggu bus yang akan datang selanjutnya; dengan air muka
yang membuatku ingin memukulnya. Beruntung aku berdiri di tempat umum, ada rasa
tidak enak kepada orang-orang yang lewat kalau terjadi keributan.
Kutunggu kedatangan bus
seorang diri, lalu datang satu dua hingga tiga orang ikut mendiami bersamaku.
Di dalam ruangan yang cukup sempit sebagaimana halte pada umumnya, kami tak
bertegur sapa. Tidak ada satu patah kata pun terucap dari mulut kami karena
memang tidak kenal satu sama lain, hingga bus yang kami tunggu datang dan
membawa kami pergi bersama.
Bumi ini masih diguyur
hujan ketika aku sampai di depan kantor. Supaya lebih cepat sampai, aku sedikit
berlari kecil menerjang hujan dan genangan air dengan menanggalkan payung yang
aku bawa karena letak kantor dekat dengan halte. Di depan kantor, aku bertemu
dengan Amat yang juga baru saja sampai, dan bertegur sapa seperti hari-hari
sebelumnya. Mungkin bedanya adalah dia menanyaiku apakah aku kehujanan. Aku
ingin menjawab, “Tentu saja bodoh!” namun, saat mengucapkannya kuganti dengan
kalimat “Tidak.”
“Jelas-jelas tubuhmu
basah,” sangkalnya.
“Kenapa masih tanya?”
Amat tertawa dan
setelah itu berkata, “Ayo masuk ke dalam.”
Walaupun aku menyebutnya
kantor, sebenarnya tempat itu hanyalah sebuah rumah kontrakan tipe tigaenam
yang sedikit dirombak supaya dapat disebut begitu. Untuk meyakinkan, di depan
dipasang nama kantor dengan ditambahkan ijin dari departemen keuangan dan
nomornya. Kurasa ini lebih dari sekedar cukup untuk meyakinkan orang-orang.
Pak Jarot Sastroadmojo,
bosku, dia yang merubah rumah kosong itu menjadi sebuah kantor akuntan publik
dan membuat orang-orang datang mengeluh tentang masalah keuangannya. Dia juga
yang membayar aku, Amat, Mbak Elok, serta Resik setiap bulannya, sehingga mau
tidak mau kami harus mengikuti apa yang dia perintahkan.
Selepas pukul delapan
pagi, Pak Jarot datang dan mengatakan kepada kami untuk segera menyelesaikan
audit tiga berkas laporan keuangan. Dengan kalimat-kalimat penuh semangat
seperti biasanya dia menjelaskan apa saja yang harus kami lakukan, dan
setelahnya mengajak pergi Resik walaupun bukan untuk sebuah kencan. Mereka
harus menghadiri sebuah sidang seorang pedagang ayam yang menggelapkan pajak.
Memang biasanya Resik yang diajak oleh Pak Jarot karena dia yang paling pintar
diantara kami. Lagi pula, dengan kacamatanya yang super tebal, itu akan lebih
meyakinkan para penyidik.
Kami yang tinggal di
kantor –kecuali Mbak Elok sebab dia duduk di bagian administrasi (atau lebih
baik kusebut Aku dan Amat karena akan lebih mudah dipahami), mulai bekerja
hingga siang hari. Hingga Pak Jarot dan Resik pulang dan mengajak kami makan
siang.
“Ayo?” ajak Amat.
“Aku selesaikan ini
dulu.”
“Yakin mau kami
tinggal?”
“Pergilah!”
“Aku suka semangat
kerjamu. Tapi ini sudah waktunya makan,” ucap Pak Jarot.
“Iya, aku nanti makan
di depan saja Pak, tanggung.”
“Terserah kalau itu
maumu.”
Mereka lalu pergi
meninggalkanku dengan tumpukan angka-angka yang tidak dapat aku bayangkan
sebanyak apa kalau angka itu menjadi uang dan hadir di depanku.
Hanya beberapa menit seusai
mereka pergi, kepalaku sudah pening dengan angka-angka yang kurasa berubah
menjadi sesuatu hal yang tidak aku pahami. Berubah menjadi bentuk-bentuk baru
dan mulai berkeliling di atas kepalaku dengan sangat cepat, lalu melambat
hingga berhenti, dan aku tetap tidak paham angka apa itu.
Aku berhenti dan melihat
langit-langit dan tembok. Entahlah, aku sendiri tidak paham kenapa aku melakukan
ini dan apa hasilnya. Yang jelas, ketika aku berhenti membaca angka-angka
tersebut, rasa pening di kepalaku dalam sekejap lenyap. Kusandarkan punggungku
dan kusilangkan tangan di tengkukku, seperti
tukang siomay keliling yang sedang beristirahat di pos satpam komplek perumahan
di hari yang terik dan membikin gerah.
Tiba-tiba dalam
pikiranku muncul begitu saja sosok orang yang kulihat di halte, namun tidak
berkeliling ataupun berubah bentuk. Aku hanya mengingat-ingat wajah itu dan
mencocokannya dengan nama yang pernah kukenal sebelumnya. Setelah berpikir
cukup lama dan mengetuk-ketuk meja dengan jari telunjuk tangan kananku,
akhirnya aku menemukan nama yang pas dengan sosoknya.
Kecu.
Aku lupa nama aslinya.
Setahuku, kami, teman-teman SMA memanggilnya dengan sebutan seperti itu. Seperti
kata Shakespeare apalah arti sebuah nama, Kecu menikmati sebutan barunya,
tatkala kami baru beberapa hari menginjakan kaki di sekolah. Dan karena Kecu suka
dengan sebutan barunya, itu berarti kami tidak melakukan sebuah tindakan
kriminal. Ini bukan masalah pencemaran nama baik yang akan menyeret kami ke
pengadilan.
Setelah nama itu, yang
muncul selanjutnya adalah nama-nama lain dan kejadian-kejadian yang pernah kami
lakukan bersama. Muncul cerita-cerita saat kami bermain sepak bola, membolos
pada hari Selasa, berhutang di kantin sekolah, berkelahi dengan kakak atau adik
kelas, dan masih banyak lagi yang begitu cepat berganti dalam pikiranku. Dibalik
itu semua, terkadang Kecu menjadi dalangnya.
Bibirku mengembang
tipis karena teringat hal yang lucu. Setelah adegan lucu yang mungkin tidak
lucu apabila kuceritakan kepadamu, otakku kembali kosong. Kenangan tentang masa
lalu telah pergi dan waktu itu aku kembali melihat laporan keuangan yang dipenuhi
angka-angka dan hampir tak sadarkan diri saking peningnya.
Aku beranjak dari
tempat duduk, pergi menjauh dari laporan keuangan dan keluar mencari makan di
warung Mak Slamet yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kantor. Sebenarnya
warung Mak Slamet biasa-biasa saja, entah bangunan atau rasanya. Tapi, yang
membuatku heran, warungnya selalu ramai dipenuhi para pemakan yang tampak sangat
beringas dan saling berebut supaya dapat dilayani lebih cepat dari yang lain.
Amat pernah bercerita kepadaku kalau Mak Slamet menggunakan semacam pesugihan
dan aku tidak percaya kepadanya.
Sebenarnya ada dua
alasan utama yang membuatku tidak percaya: yang pertama Mak Slamet sampai saat
itu belum kaya setelah hampir sepuluh tahun berjualan, sedangkan yang kedua
adalah karena Amat yang bercerita dan semua hal yang Amat ceritakan selalu
meragukan. Jadi kalimat yang Amat utarakan kepadaku tidak berdampak apapun
terhadap pemikiranku tentang warung Mak Slamet dan hingga hari ini aku masih
sering datang ke sana.
Hal yang paling masuk
akal untuk menjelaskan kenapa warung itu selalu ramai adalah anak dari Mak
Slamet, yaitu Wangi. Wangi menurutku selalu menjadi daya tarik tersendiri:
dengan tubuh yang seksi dan pakaian ketat, membuat mata para lelaki jelalatan
memandang buah dada atau pantatnya dengan ekspresi wajah yang mesum, seperti
anjing yang sedang birahi. Kadang-kadang aku mendengar obrolan mereka tentang
Wangi, dengan kalimat sarkastik dan merendahkannya. Bukan sebagai seorang
manusia yang sejajar dengan laki-laki, melainkan, hanya sekedar pelengkap
kehidupan lelaki.
Setelah mengakhiri makan
siangku dengan tergesa karena harus bergantian dengan pengunjung lain aku
kembali menuju kantor, sambil menghisap rokok yang aku beli eceran di warung
Mak Slamet tadi. Sesampainya, mereka sudah datang dan kantor itu kembali
berisik. Mereka (kecuali Pak Jarot tentunya karena dia bukan tipe orang yang suka
omong kosong) sudah mengobrol ke mana-mana diselingi dengan tawa ketika aku
datang. Mbak Elok sebagai sang juru cerita berhenti sejenak sewaktu melihatku,
lalu mengajak ikut bergabung dalam lingkaran omong kosong yang mereka buat.
“Sini duduk!”
perintahnya.
Aku menjawab tanpa
kata, melainkan dengan gestur tubuh yang langsung duduk di tempat yang memang
sudah mereka sediakan untukku. Mau bagaimana lagi, otakku sudah mati rasa untuk
membaca laporan keuangan. Lebih baik aku ikuti permainan obrolan mereka dan
melupakan laporan keuangan yang mengganggu dan berharap esoknya otakku sudah mau
diajak kompromi.
Pada pukul setengah
tiga siang kami semua duduk di ruang rapat bersama Pak Jarot, memberi laporan
apa yang kami lakukan seharian, dan setelah itu ia mempersilahkan kami pulang. Namun,
perintahnya untuk segera pulang kami tidak hiraukan, karena kami sudah berjanji
untuk pergi ke kedai kopi tempat biasa kami duduk bersama, kecuali Resik yang
sudah ada janji dengan orang lain sore itu. Kami bertiga naik mobil tua angkatan
delapanpuluh dan tak terurus milik Amat dan berjalan menuju kedai kopi yang sudah
dijanjikan.
Jalanan yang kami lalui
masih basah dan langit belum juga cerah walaupun hujan sudah mandek. Anak-anak
yang berjalan pulang dari sekolah memegang payung tertutup di tangannya,
pengendara sepeda motor berhati-hati di jalan karena takut terpeleset, dan
ibu-ibu –yang walaupun hujan turun hingga menjelang siang masih saja pergi ke
pasar dan pulang membawa barang belanjaan yang mungkin lebih berat dari
tubuhnya– berseliweran di jalan. Mungkin hanya tsunami atau bencana alam lain yang
mampu membuat mereka menghentikan rutinitasnya.
Tak cukup lama kami
sudah sampai di lokasi. Kalau pergi lebih jauh lagi, mungkin aku akan
muntah-muntah dan membaui ruang dalam mobil Amat. Bayangkan saja, di dalam
mobil itu pengharumnya sudah habis dan entah berapa lama tak diisi lagi, ac-nya
tidak dingin, kulit kursi yang kami duduki sudah usang dan bau keringat. Saat
mobilnya berjalan, terdengar suara besi yang berdecit dari depan dan belakang. Untungnya
setelah beberapa lama menderita, aku dan Mbak Elok bisa turun dalam keadaan sehat
walafiat.
0 komentar:
Posting Komentar