Wanita itu mendatangi
kami, dengan menyeret tubuhnya dan memanggul keranjang, lalu sekelebat saja
sudah menyodorkan bungkusan yang berisi bandeng presto. Tubuhnya dipenuhi peluh
dan wajahnya tampak letih. Dengan semangat yang belum pudar, sambil tersenyum, ia
menawarkan kepada kami untuk membawa pulang barang dagangannya. Keramahannya
memang membuatku sedikit merasa iba, namun, aku sedang tidak ingin membeli
bandeng. Urusan kami lebih pelik dari sekedar membelinya, oleh karena itu,
setelah ia mengkhatamkan kalimatnya, aku menolak tawaran itu dan membiarkannya
pergi begitu saja.
Setelah wanita itu
pergi aku kembali diam.
Sejak awal kami datang
dan duduk di tempat ini, keadaan kami memang tidak baik-baik saja. Dua hari
yang lalu ia mengatakan kepadaku kalau akan pergi. Kalimat itu sebenarnya bukan
masalah besar karena orang-orang memang suka berpergian. Tetapi, embel-embel
setelah kalimat pergi lah yang mengganggu isi kepalaku. Seusai ia menutup
teleponnya, kalimat-kalimat itu masih berdengung di telinga dan membuat
hari-hariku kecut dan tidur tidak nyenyak. Omongannya menggangguku hingga hari
ini.
Aku memandangi jalanan
sambil menopang dagu dengan tangan kiri, sambil sesekali menghisap rokok yang
terselip di tangan kanan. Jalanan yang selalu ramai masih dilewati oleh
bermacam kendaraan, gedung-gedung masih berdiri kokoh dan entah kapan akan rubuh,
tukang tambal ban di seberang jalan masih sibuk dengan peralatannya padahal
matahari bersinar seenaknya sendiri tanpa peduli kami kepanasan atau tidak.
Aku hanya memandangi
jalanan karena sedang malas melihat wajahnya.
Biasanya aku membuat
lingkaran asap dari mulutku kalau sedang merokok, namun kali ini tidak. Aku
tidak sedang baik-baik saja sehingga malas melakukan banyak hal. Tidak ada juga
keinginan untuk menanyakan apa yang ia lakukan dari pagi, tadi pagi sarapan apa,
serta pertanyaan-pertanyaan remeh lain seperti yang sering aku lakukan
sebelumnya.
Aku hanya ingin waktu
berputar lebih cepat sehingga tidak melihat wajahnya lagi. Mau berusaha seramah
apapun kepadanya di raut wajahku, di dalam dadaku berasa seperti sedang ditanami
batu yang membikin berat atau bekas sayatan pisau yang membikin luka. Kurasa
lagu-lagu sendu dapat menyelamatkan hatiku karena orang-orang sering
melakukannya, dan kata mereka terbukti ampuh menentramkan hati yang
gundah-gulana. Mungkin setelah ini aku perlu mencoba.
Tubuh Mira membungkuk
bukan karena penyakit kifosis yang menyerang tulang belakang, tetapi karena ia
sedang asik dengan ponselnya. Entah apa yang sedang dilakukannya –sejak kami
duduk di tempat ini kepalanya selalu menunduk seperti ahli ibadah yang sedang
berdoa. Aku takut orang yang duduk di belakangnya menganggapku melakukan
hal-hal yang tidak baik kepadanya.
Ketika menengok ke atas
meja, kopiku sudah tandas dan menyisakan ampas. Aku celingukan sebentar;
melihat sekeliling, sepi, walaupun beberapa orang sedang duduk dan menikmati
minumannya. Ini memang bukan tempat untuk berteriak-teriak seperti lapangan
sepakbola atau ruang karaoke, jadi sudah sepantasnya kalau tempat ini sunyi.
Kalau saja ada orang yang berteriak, mungkin pihak keamanan sudah melemparnya
ke jalanan, atau yang paling parah, menginap semalam di jeruji besi karena
mengganggu ketertiban umum.
“Apa yang kau cari?”
tanya Mira.
“Aku ingin memesan
secangkir lagi. Boleh, kan?”
“Terserah, masih ada
satu setengah jam sebelum aku berangkat.”
Setelah tampak di ujung
mata seorang perempuan memakai seragam hitam memandangku, kuangkat tangan kanan
sebagai tanda untuk memanggilnya. Beberapa saat saja ia sudah berdiri di
hadapanku.
“Ada yang bisa saya
bantu?” Tanya perempuan berseragam.
“Aku mau kopi itu
secangkir lagi,” tunjukku ke arah gelas kopi di atas meja.
“Ada pesanan lain?”
tanya perempuan itu sambil mencatat.
“Itu saja.”
“Baik, terima kasih,
silahkan ditunggu,” ucap perempuan itu kemudian segera pergi.
“Kau marah kepadaku
Ben?” tiba-tiba ia bertanya kepadaku.
“Kenapa aku harus
marah? Ini mimpimu, mimpi memang harus diwujudkan. Aku tidak ingin merusak
mimpi orang lain. Kalau aku mencegahnya, kau yang akan marah kepadaku.”
“Berarti kau marah?”
“Enggak.”
Tak ada kalimat lain lagi
di antara kami setelah jawabanku terucap.
Jarum jam bergerak dari
angka dua belas menuju angka dua belas lagi dan hanya berkutat di situ-situ
saja. Setelah jarum tersebut berkeliling selama lima menit, perempuan
berseragam mendatangi meja kami dan membawakan pesananku. Sambil tersenyum
perempuan itu menaruh kopi yang aku pesan di atas meja dan memintaku untuk
menikmatinya. Aku mengucapkan terima kasih dan setelah ia pergi, aku segera
meneguk sedikit untuk membasahi kerongkonganku yang mulai kering karena rokok.
***
“Lalu, dimana kau akan
tinggal?”
“Di sana kosong,”
Tunjuk Mira ke arah bangku kosong.
Kami melangkah
bersandingan menuju tempat kosong di sudut ruang. Orang-orang tidak
memperhatikan kami. Memang, setiap orang punya urusan masing-masing dan tidak
penting untuk mengamati kami berdua berjalan melewatinya. Kalaupun ada yang tanpa
sengaja memandang kami, orang itu hanya akan mengamati beberapa saat kemudian
melanjutkan kegiatannya kembali tanpa memperdulikan lagi apa yang kami lakukan.
“Tadi apa? Kau bertanya
apa kepadaku?” tanya Mira selepas kami menempelkan pantat kami di atas kursi.
“Dimana kau akan
tinggal?” aku menghela nafas, “Maksudku, apakah kau sudah dapat tempat tinggal
di sana?”
“Untuk beberapa hari ke
depan, aku akan tinggal di rumah Wira. Kau tahu, kan? Anak om Prapto yang tiga
minggu lalu datang ke rumahku? Ia yang menawariku pekerjaan ini, dan ia juga
menawariku tempat tinggal kalau aku mau bekerja di sana.”
“Beruntung kau punya
saudara yang baik.”
Aku tahu Wira itu
saudaranya, tapi entah kenapa perasaan ini menjadi lebih tak keruan. Batu yang
ada di dadaku menjadi lebih besar lagi. Ingin rasanya untuk mengatakan kalau
Mira tidak perlu tinggal bersamanya, namun apa daya. Mau bagaimanapun, Wira
adalah saudaranya dan sebagai seorang saudara yang baik ia harus memastikan Mira
aman tinggal di ibukota. Lagipula, orang tua Mira pasti lebih setuju kalau Mira
tinggal bersama Wira daripada harus kos di tempat asing.
Terdengar suara wanita
dengan pengeras suara dan meminta para penumpang untuk segera masuk ke dalam
gerbong karena kereta akan segera berangkat.
Matahari sudah tidak
begitu terik, tetapi, entah kenapa aku masih merasa gerah. Mungkin karena Mira
akan pergi, atau mungkin juga ada alasan lain yang aku sendiri belum sadar apa
itu karena isi kepalaku masih kacau.
“Aku harus segera
pergi,” ucap Mira.
Mira kemudian berdiri,
memeriksa, dan memastikan barang yang akan dibawanya telah siap semua tanpa ada
yang tertinggal. Aku juga berdiri. Setelah memastikan semua barang bawaannya
siap, Mira mengecup pipiku. Hampir saja air mataku jebol. Untung aku mampu
bertahan sehingga tidak ada yang mentertawakanku.
“Kau yakin akan pergi?”
“Ben, mungkin ini
satu-satunya kesempatan dalam hidupku. Kalau aku tidak mengambil kesempatan ini,
aku akan menyesal seumur hidup,” Mira tersenyum, “Kau pasti akan menemukan perempuan
yang lebih baik dariku, yang lebih bisa mengerti dirimu.”
Entah kenapa ia
menggunakan pernyataan klise untuk berpisah denganku. Ini bukan cerita tv dan
aku tidak akan berusaha mencarinya di ibukota, apalagi memaksa bertemu
dengannya setelah beberapa tahun berpisah dan membuat kami lagi-lagi saling
jatuh cinta. Ini adalah perpisahan yang terakhir untuk kami. Ia akan
melanjutkan hidupnya di sana, dan aku akan melanjutkan hidupku di sini tanpa
pernah bertemu lagi.
“Jaga dirimu
baik-baik.”
Itu kalimat terakhirku,
dan setelah menyelesaikan kalimat itu aku hanya melihat punggungnya menjauh,
hingga hilang ditelan bangunan ini. Setelah ia lenyap, aku kembali duduk lalu
menyalakan rokok. Aku tidak memikirkan hal remeh seperti di tempat ini aku
boleh merokok atau tidak. Mungkin akan ada beberapa orang yang menegurku namun
aku tidak peduli. Dadaku benar-benar sesak dan hanya rokok yang mampu
menyelamatkan dadaku saat ini.
Ingin rasanya aku
melompat ke dalam polder air di depan stasiun. Namun, ketika ingat kalau banyak
tukang becak dan tukang ojek yang kencing di sana, aku segera mengurungkan
niatan itu. Mati karena meminum air kencing bukan hal yang mengesankan dan
hanya akan menjadi bahan omongan orang-orang.
Lebih baik aku mati
ditabrak kereta yang Mira tunggangi. Dengan begitu Mira akan tahu kalau aku
mati. Mira akan tahu kalau aku merasa kehilangan. Aku tak sanggup menahan batu
di dadaku yang terus saja menjadi besar. Jadi, ketika mengadu tubuhku dengan
kereta, aku berharap batu itu akan segera terlepas dari tubuhku dan tidak akan ada
beban lagi yang harus kutanggung. Bahkan, aku berharap kalau batu itu terlempar
ke dada Mira supaya ia juga merasakan apa yang aku rasa.
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusMantavv sekali bung, ditunggu versi cetaknya yah
BalasHapusGood
BalasHapus👌😂
BalasHapus