Seiring kemajuan teknologi, fotografi terus tumbuh
menjadi salah satu medium yang sangat dekat dengan manusia. Nirwan Ahmad Arsuka
mengungkapkan bahwa jika
seni rupa adalah sastra, dan lukisan adalah puisi, maka fotografi adalah
bahasa. Antara lain karena kemampuannya yang tanpa preseden dalam mengabadikan
dan menggandakan semua citra (bukan hanya yang bisa langsung dicerap),
fotografi memang bukan lagi sekadar sebuah bentuk seni; ia lebih luas dari
seni.
Pertama kali
muncul, fotografi dengan entengnya menggeser kedudukan lukisan sebagai medium
dokumentasi. Dengan waktu eksekusi yang relatif lebih singkat, orang-orang
lantas berduyung-duyung meninggalkan lukisan. Kelak lukisan akan berdiri
sendiri sebagai salah satu cabang seni, tidak hanya sebagai alat dokumentasi.
Berubah menjadi alat untuk ekpresi, serta, yang lebih kontemporer, sebagai
wujud dari suatu gagasan.
Awalnya banyak yang
menganggap fotografi bukan bagian dari seni karena beragam hal. Termasuk salah
satunya, karena prosesnya yang kimiawi dan bertentangan dengan asas dalam
memproduksi suatu karya seni. Namun, semakin kesini fotografi semakin diakui.
Fotografi mulai masuk ke galeri-galeri seni, serta, diundang dalam
pagelaran-pagelaran seni yang diadakan setiap tahun oleh beragam komunitas
seni.
Sekarang, setiap hari, kita selalu diserbu dengan
beragam foto yang di unggah orang-orang melalui media sosial. Tengoklah instagram sebagai contoh. Dalam sehari,
ada jutaan foto yang diunggah. Foto yang ditampilkan pun beragam; mulai dari
kegiatan sehari-hari, makanan, hingga gambar-gambar seronok dapat kita jumpai
dengan mudah (kalau belum dihapus oleh pihak instagram tentu saja).
Dengan semakin mudahnya memotret, anda tahu, semua
orang bisa menjadi juru foto. Kita dapat melihat di sekeliling kita, mulai dari
anak-anak hingga orang dewasa menggunakan ponselnya untuk merekam apa yang
mereka lihat. Tidak ada masalah. Mereka semua senang dan bahagia dengan apa
yang telah mereka lakukan.
Yang mengganggu saya adalah ketika orang-orang
tersebut mulai mengikrarkan diri sebagai “fotografer”. Dengan berbekal kamera
berharga mahal, mereka mulai memotret apa saja, lalu dengan bangganya
mengatakan kalau karyanya sebuah masterpiece,
tanpa pernah paham foto yang “bagus” itu seperti apa. Foto-foto bergaya
populer dengan mudah tumbuh pesat, mungkin, karena “zona nyaman” yang
diciptakan para pegiat foto membuat mereka terbuai.
Eka Kurniawan, dalam blog pribadinya, pernah menulis
kurang lebih seperti ini: “Karya yang bagus adalah karya yang dapat membuat
saya pergi kemana-mana”. Ketika semua orang memotret dengan gaya yang seragam,
dengan isi yang begitu-begitu saja, lantas apakah anda akan pergi kemana-mana?
Apakah anda memperoleh pengalaman baru yang tertanam di dalam kepala anda?
Orang tanpa memiliki kecakapan mumpuni, tentu saja,
akan membuat karya yang buruk. Untuk menghindari hal tersebut, sudah semestinya
upaya untuk belajar lebih digiatkan. Para pelaku foto mesti banyak belajar
tentang bagaimana memproduksi suatu karya. Mereka juga perlu memperdalam
disiplin ilmu lain, sehingga, karya-karya yang mereka hasilkan semakin
berkembang, tidak berkutat di kubangan yang itu-itu saja.
Beruntung saat ini masih ada komunitas-komunitas
fotografi –walaupun masih minoritas, serius mengembangkan fotografi. Jadi, walaupun
berada di tengah derasnya arus fotografi populer, kita masih diberi kesempatan
untuk melihat karya-karya baru bermunculan.
Para pegiat foto tidak perlu memikirkan eksistensi
fotografi. Susan Sontag sudah dengan jelas mengungkapkan bahwa semua karya seni
ingin seperti fotografi, yang sangat dekat dengan masyarakat dan berada di
tengah-tengah masyarakat. Yang perlu dilakukan sekarang adalah menambah ruang
diskusi dan memperluas materi diskusi, sehingga karya fotografi dapat semakin
berkembang. Karena, karya yang bagus adalah karya yang membawa kebaharuan; baik
dari segi bentuk maupun isi.
0 komentar:
Posting Komentar