Jumat, 28 Juni 2019

Hal-Hal yang datangnya dari Korea Selatan

Dalam beberapa hari terakhir ini, entah kenapa saya merasa dekat betul dengan Korea Selatan. Pertama. Lini masa media sosial saya berseliweran berita tentang Song Joong-Ki karena teman-teman saya. Katanya beliau hendak bercerai. Saya tak begitu paham apa penyebab perceraian mereka, tetapi, sepertinya itu berita duka bagi teman-teman saya. Memang, perpisahan selalu menyedihkan bagi siapa saja. 
Kedua. Saya semalam menonton film Parasite garapan Bong Joon-Ho. Saya menyempatkan diri menonton film tersebut, selain karena saya suka film bikinan Bong Joon-Ho, film tersebut juga mendapat palm d’or (penghargaan untuk film terbaik) di festival film Cannes 2019. 
Parasite bercerita tentang keluarga miskin, yang tiba-tiba mendapat pekerjaan di rumah orang kaya. Pekerjaan pertama datang kepada si anak laki-laki yang bernama Ki-Woo. Ia diminta menggantikan kawannya memberikan les bahasa Inggris pada anak perempuan keluarga kaya tersebut. Kemudian si anak perempuan, yang direkomendasikan oleh kakaknya, menjadi guru menggambar bagi anak laki-laki di rumah si keluarga kaya. Kemudian sang ayah berkesempatan menjadi sopir, kemudian sang ibu menjadi pembantu rumah tangga. 
Mereka datang ke rumah keluarga kaya tersebut dengan latar keluarga yang berbeda, dan bekerja seolah-olah tak mengenal satu sama lain. 
Awalnya semua berjalan dengan lancar, hingga pembantu rumah tangga lama, yang bernama Moon-Gwang, datang lagi ke rumah Mr. Park. 
Ketika keluarga Mr. Park pergi berkemah, Moon-Gwang datang ke rumah, sambil memelas, meminta dibukakan pintu. Katanya ia hanya ingin mengambil barang. Namun, begitu masuk ke dalam, Moon-Gwang malah membuka bungker rahasia di lantai bawah, yang ditinggali oleh suaminya. Hanya Moon-Gwang yang tahu bungker tersebut.
Saat di bungker itu juga, keluarga Ki-Woo ketahuan sedang membohongi pemilik rumah oleh Moon-Gwang.
Film ini menggambarkan bagaimana sifat-sifat manusia, dengan perbedaan kehidupan kelas sosial mereka. Ada adegan ayah Ki-Woo menusuk Mr. Park. Penyebabnya sepele, Mr. Park mempermasalahkan bau badan. Sebetulnya itu hanya obrolan remeh yang dapat dilakukan oleh siapa saja. Mungkin, kalau yang mengatakannya orang-orang terdekat keluarga Ki-Woo, hal tersebut tak bakal jadi masalah. Namun, karena itu diucapkan oleh Mr Park, hal tersebut jadi terdengar sebagai penghinaan yang tak termaafkan, yang dapat memancing emosi ayah Ki-Woo.
Keluarga Mr. Park sebetulnya keluarga yang biasa saja. Terlalu biasa malahan. Misalnya: Mereka dengan mudah memecat sopir lamanya karena pancingan adik Ki-Woo. Setelah termakan pancingan adik Ki-Woo, mereka kemudian membangun asumsi-asumsi, tanpa ada verifikasi, dan mengambil kesimpulan berdasarkan asumsi mereka sendiri. Sama seperti kebanyakan orang yang ada di muka bumi ini.
Saya dan orang-orang yang ada di bioskop, yang awalnya tertawa-tawa menonton adegan-adegan lucu dalam film, terdiam menjelang akhir film. Saya tak tahu apa alasan mereka. Sedangkan buat saya, film tersebut membawa saya melihat kembali, bagaimana perbedaan kelas sosial dapat dengan mudah membakar amarah orang.
Ketiga. Saya juga baru saja selesai membaca The Hole karya Pyun Hey-Young. Ini tentang orang yang mulai menyerah dengan keadaan. Novel ini berkisah tentang Oh Gi, penyintas kecelakaan, yang sebagian tubuhnya hancur, dan hampir dipastikan tak dapat sembuh betul. Istrinya meninggal karena kecelakaan itu. Mertuanya, yang sepertinya memendam amarah kepada Oh Gi karena kehidupan masalalu Oh Gi, tak benar-benar serius merawatnya. Ia merasa bimbang. Di satu sisi, ia ingin sembuh kembali. Tapi di sisi lain, ia galau, apakah dapat menjalani hidupnya seperti sediakala dengan tubuhnya yang sudah remuk. 
Terkadang hidup melenceng jauh dari rencana kita. Misalnya saja, apa yang dialami oleh Oh Gi. Ia gagal berbaikan dengan istrinya karena kecelakaan. Mimpi-mimpinya juga ikutan kandas karena kecelakaan tersebut. Tak jauh berbeda dengan Oh Gi, Keluarga Ki-Woo juga mengalami hal yang sama. Kejadian di rumah Mr. Park juga di luar rencana mereka dan membikin panik. 
Ayah Ki-Woo mengatakan kalau apa-apa saja yang direncanakan pasti akan berakhir dengan kegagalan. Menurutnya rencana terbaik adalah menjalankan semuanya tanpa rencana, sehingga mereka tak akan berjumpa dengan kegagalan. 
Lalu, apakah dengan begitu kita tak boleh membuat rencana dalam hidup kita, hanya untuk menghindari sebuah kegagalan?

Rabu, 03 April 2019

Panic Attack

Hal yang menyenangkan dari duduk dengan teman lama saya adalah: saya beroleh informasi tentang apa yang terjadi dengan teman-teman kami sekarang ini. Salah seorang teman saya bercerita, kalau ia sedang menderita panic attack. Ia sering merasa ketakutan, tetapi tak dapat menjelaskan apa penyebabnya. Terkadang ia jadi susah bernafas, dan terkadang tubuhnya gemetaran juga. Karena baru tahu ada penyakit seperti itu, saya tak mampu memberi saran apa yang harus ia lakukan.
Malamnya saya sempat browsing sebentar untuk mencari tahu. Dari apa yang saya baca, penyebab utamanya adalah rasa stres yang berlebih. Kalau cara mengatasinya, mungkin orang yang mengalaminya perlu memperbanyak melakukan hal-hal yang menyenangkan. Semisal: main-main keluar. Atau, bisa juga bercerita pada orang lain tentang perasaannya supaya perasaannya lebih lega.
Karena teman saya bercerita apa yang sedang ia alami, saya menyimpulkan kalau ia sedang berupaya mengobati dirinya sendiri.
Teman saya yang lain bercerita kalau salah seorang teman kami kondisinya sedang mengkhawatirkan. Ia sering ngamuk-ngamuk sendiri karena masalah percintaannya dengan perempuan yang ia suka. Penyebabnya terkadang sepele. Karena mengumpat mungkin dapat menentramkan hatinya, kami tak memarahinya.
Belakangan, teman saya yang sedang jatuh cinta tersebut mulai mengesalkan karena tak bisa mengontrol dirinya sendiri. Setiap kali ia bertemu dengan salah seorang dari kami, kami harus mendengarkan ceritanya. Ia selalu meminta saran, tapi, hampir dipastikan ia akan mengabaikannya. Logikanya kalah oleh rasa cintanya yang cukup dalam. Sangat menjengkelkan memang. Juga mengkhawatirkan.
Namun, sepertinya, kondisinya mulai membaik. Kami kemarin bertemu dan ia sudah tak uring-uringan lagi. Sudah tak banyak keluhan yang ia katakan kepada saya. Jadi saya tak perlu repot-repot memberi saran. Mungkin, ia mulai bisa memahami keadaan, kalau kisah cintanya sudah tak bisa dilanjutkan.
Saya sendiri juga bercerita kepada teman saya tentang kesehatan tubuh saya. Saya sempat cek asam urat dan hasilnya asam urat saya lumayan tinggi. Mungkin ini penyebabnya, kenapa akhir-akhir ini tubuh saya sering pegal-pegal. Akhirnya, saya memutuskan, dalam beberapa waktu ke depan, mau tak mau, saya harus mengucapkan selamat tinggal pada uritan.

Senin, 03 Desember 2018

Kenang-Kenangan Menakjubkan si Beruang Kutub, Claudio Orrego Vicuna

Salah satu bagian yang menarik adalah: ketika sang beruang menceritakan tentang bagaimana tukang bersih-bersih kandangnya datang ke kebun binatang. Tukang bersih-bersih tersebut datang dengan pakaian seadanya, yang dapat mendatangkan rasa iba. Namun, begitu berganti pakaian, semuanya berubah. Ia menjadi culas dan penuh keangkuhan, memerintah--bahkan memukul--binatang di kandang seenaknya sendiri.
Bukan hanya bapak tersebut, sepertinya naluri seorang manusia memang seperti itu ketika memiliki kesempatan. Orang ingin menjadi lebih hebat di depan orang lain --atau di depan para binatang untuk kasus bapak tersebut. Orang ingin menjadi lebih hebat karena itu menyenangkan. Coba kau bayangkan jika kau punya kekuatan? Kau dapat memerintah orang lain, kau dapat memiliki apa yang kau ingin. Untuk memuaskan batinmu tentu saja. Jadi kau tak perlu repot. Menyenangkan tentu saja?
Bahkan, semenjak manusia belum mengenal tulisan, mereka sudah tahu bagaimana cara berkuasa. Mereka akan saling serang, yang pertama-tama karena makanan. Kemudian, beberapa ratus tahun kemudian, karena teritori. Masalah tersebut berlanjut hingga sekarang. Malahan, sekarang lebih banyak hal yang dapat dipermasalahkan untuk menunjukan kekuatan. Misalnya saja: saling serang antara pendukung pasangan calon presiden.
Lalu apa yang kau harapkan dari manusia supaya kehidupan ini membaik? Atau mungkin lebih baik aku ganti pertanyaannya menjadi seperti ini; lalu bagaimana membuat mereka sadar? Mengesalkan, bukan?
Terkadang saya juga gemas sendiri ketika membaca lini masa media sosial saya. Mereka lebih suka bertengkar daripada bertukar pikiran. Apakah meminta mereka untuk bertingkah seperti orang yang terdidik sudah usang? Kalau belum, ya, tolong ya.
Bagian lain buku ini masih berisi tentang cara si beruang memandang para manusia. Ia tak habis pikir bagaimana manusia merasa terkekang padahal berada di luar dan dapat melakukan apa saja, berbeda dengan dirinya. Bahkan sang beruang merasa lebih bebas hidupnya padahal ia tinggal di sebuah kandang. Kocak, kan?

Kamis, 04 Oktober 2018

34 Derajat

34 derajat di tempatmu tinggal. Tak apa. Orang-orang masih tetap membikin kebisingan di jalan, demi menyelesaikan segala macam keperluan.
34 derajat di tempatmu tinggal. Membuatmu berharap berada di mall untuk mendinginkan badan. Kau juga berharap di mall membawa banyak uang, biar dapat membeli sepatu adidas yeezy atau nike airmax seperti para pemuda kekinian.
34 derajat di tempatmu tinggal. Di antara teriknya hari, di dekat tempatmu merebahkan badan, terdengar obrolan tetangga, membicarakan hajatan orang.
Keteringnya tak enak, katanya.
34 derajat di tempatmu tinggal. Media sosial mengabarkan berita tentang kebohongan bekas aktivis perempuan, yang semakin memanaskan hari-hari menjelang pemilihan dua orang calon pimpinan.
34 derajat di tempatmu tinggal. Malika masih dirawat seperti anak sendiri oleh seorang petani, kata sebuah iklan.

Kamis, 23 Agustus 2018

Beberapa Waktu yang Lalu

Sesampainya di indekos, kau merebahkan badanmu, menatap layar ponsel. Ada begitu banyak chat di grup sosial mediamu. Lalu kau mencari handsfreemu di dalam tas, memasang dan menyalakan lagu-lagu tahun delapan dan sembilan puluhan, untuk membuang kebosananmu.

Dua hari yang lalu kau pergi dengan teman lamamu. Seperti biasanya, kalian meminum secangkir kopi dan bercanda dan sesekali mengobrol serius juga.
“Bagaimana rasanya dibalap? Aku sepertinya perlu belajar darimu,” tanyamu.
“Jodoh sudah diatur sama yang diatas, tak perlu risau,” jawabnya.
“Bijak sekali,” responmu. “Ngomong-ngomong aku salut dengan Lutfi. Kau tahu, kan, ia betul-betul mencintai istrinya. Ia rela menunggu istrinya berpacaran dengan orang lain terlebih dahulu, sebelum mereka menikah. Kisah cintanya mirip Florentino Ariza.”
“Tak usah berlebihan. Florentino Ariza menunggu 51 tahun 9 bulan 4 hari. Sedangkan Lutfi? Hanya beberapa bulan. Eh, sampai setahun enggak, sih?” bantahnya.
Kau tertawa.
“maksudku cara Lutfi mencintai istrinya, bukan durasi waktu menunggunya,” belamu.
Pukul sembilan lebih sedikit kalian pulang ke indekos masing-masing.

Kau mencoba bangun pagi, walaupun masih kesiangan juga, untuk mengejar kereta yang akan membawamu ke luar kota. Beruntung petugas stasiun baik hati, memberimu kelonggaran untuk masuk ke peron tanpa perlu menunjukkan identitas. Jadi larimu tidak sia-sia. Kau masih sempat mengejar kereta yang akan segera berangkat.
Ini bukan pertama kalinya kau berlarian karena beberapa bulan yang lalu kau juga hampir ketinggalan pesawat ketika hendak ke Bali.

Seperti biasa ketika kau pulang ke kota kelahiranmu, kau duduk-duduk bersama teman lamamu.
“Dalam hal pencapaian hidup, negara maju dan negara berkembang berbeda. Di negara maju, karir merupakan puncak pencapaian hidup. Di negara berkembang, pernikahan, lah, yang jadi patokan pencapaian hidupmu,” ucap salah seorang temanmu yang sering sial ketika menjalani pendidikan formal.
“Ah, itu hanya pembelaan dirimu karena masih belum punya pacar,” bantah temanmu yang lain.
“Eh, besok bagaimana jadinya? Ke Tegal naik apa?” tanyamu.
“Kita sewa mobil saja,” jawab temanmu.
“Kalau begitu kita ketemu di sana. Aku berangkat naik kereta. Pulangnya baru aku bareng kalian.”

Kau naik kereta pukul sembilan kurang. Di dalam kereta, kau menyempatkan diri melanjutkan bacaan yang sudah beberapa hari ini kau lewatkan. Karena rasa malasmu, cita-citamu untuk membaca dua buku setiap bulan saja sering gagal. Dan sekarang, kau kembali berusaha membuang rasa malasmu, supaya rasa bersalah karena sering bermalas-malasan tak menumpuk terlalu banyak.
Beberapa waktu kemudian salah seorang temanmu mengirim pesan. Ia mengatakan baru saja mengirim uang, menitipkan sumbangan karena tak bisa datang, dan memberi sedikit kelebihan untuk membeli rokok anak-anak yang berangkat ke Tegal. Kau berterima kasih kepadanya, lalu sesuai amanah temanmu, kau masuk ke alfamart untuk membeli rokok bungkusan.
Kau sempat mengumpat sebentar karena rokok di stasiun Tegal sedikit lebih mahal, lalu setelah itu segera berdamai dengan keadaan.

“Teman, besok kita bakar-bakar daging kurban di rumahku,” ucap salah seorang teman di dalam grup sosial mediamu.
“Kamis saja, aku sedang ada acara kampung,” respon temanmu yang lain.
“Kalau Kamis aku kerja, heuheu.”
Keputusannya adalah: kalian akan pesta daging kurban sebanyak dua kali.

Kau datang pada pesta yang pertama. Kau dan teman-temanmu membuat sate, mengobrol, bercanda, dan sore harinya, setelah kenyang, kalian bubar karena kesibukan. Kau sendiri harus berangkat lagi ke indekosmu karena esok harinya sudah harus kembali dengan rutinitasmu.

Sesampainya di indekos, kau merebahkan badan, memasang handsfree dan menyetel lagu-lagu tahun delapan dan sembilan puluhan.

Senin, 02 Juli 2018

Bagaimana Krisis Seperempat Abad Mengganggu Saya dan Teman-Teman Saya

Beberapa hari yang lalu saya dan beberapa teman saya sempat membahas status di media sosial salah seorang teman kami juga. Status yang diunggah tersebut berbunyi kurang lebih seperti ini: ia merasa kalau hidupnya penuh nyinyiran. Ia juga tak habis pikir, kenapa di hidupnya selalu bertemu dengan orang-orang seperti itu, dan memanggil orang-orang tersebut dengan sebutan makhluk bermental sampah. Karena di status tersebut tak ada nama yang disebutkan, saya hanya bisa menduga-duga siapa orang yang ia maksud.
Memang orang-orang bermental sampah itu berbahaya. Ia pergi kemana-mana dan mengedarkan bau yang tidak sedap, serta membikin orang-orang yang dekat dengannya dapat tertular. Kau harus cepat-cepat mandi dan mencuci bajumu ketika bertemu dengan orang-orang semacam itu, supaya bau tersebut dapat segera hilang dari tubuhmu.
Di luar isi statusnya, saya merasa ada ketidakbahagiaan di sana, dan sedang ia ungkapkan semuanya dalam bentuk status panjang. Dengan begitu, mungkin apa-apa yang mengganjal di dalam dadanya dapat segera lenyap (kalau saya tidak salah menyimpulkan).
Sebetulnya, banyak teman-teman saya merasakan apa yang sedang ia rasakan. Mereka sedang tidak baik-baik saja. Mereka sedang berada di dalam masa, dimana semua hal yang ada di dunia ini tak sama dengan apa yang mereka harapkan sebelumnya. Dulu mereka beranggapan bekerja dan memperoleh penghasilan sendiri itu menyenangkan, ternyata malah merepotkan. Dulu mereka beranggapan setelah menikah hidupnya semakin indah, ternyata tidak juga. Dan lain-lain dan lain-lain dan lain-lain.
Cara mereka untuk menumpahkan kekesalannya pun bermacam-macam, dan kebanyakan dari mereka menggunakan media sosial sebagai sasaran empuk. Ada yang menulis dengan berapi-api penuh kekesalan, ada yang membagi kalimat motivasi dan menjadi bijak, ada yang membadut dengan melempar lawakan-lawakan sehingga perasaan mereka menjadi lega. Dalam film fight club, tokoh utamanya memilih masuk dalam kelab adu gebuk untuk menghilangkan stres yang menderanya.
Tak berbeda jauh dengan teman-teman saya, saya juga merasakan hal yang sama. Saya selalu merasa ada sosok lain dalam diri saya, yang berusaha menguasai tubuh ini, untuk menjadi apa yang ia mau. Ia meminta saya melakukan ini dan itu, membikin saya susah untuk tidur. Ia menciptakan kecemasan dalam diri saya, menebar ketakutan ketika saya sedang tidak melakukan apa-apa. Sebetulnya, ketika sedang tidak melakukan apa-apa, saya hanya ingin beristirahat.
Jangankan orang seperti saya, banyak pesohor kelas dunia yang sedang dalam puncak karirnya pun mengalami hal serupa. Bahkan, mereka terkadang gagal melewati krisis tersebut, dan memutuskan mengakhirinya hidupnya, sebagai cara untuk menyelesaikan masalah yang sedang mereka alami. Kurt Cobain, misalnya.
Sekarang ini harapan saya sederhana: semoga hal menyebalkan semacam ini dapat segera berlalu.

Senin, 25 Juni 2018

Cara Mengirim Mayat dalam 24 Jam

Bajingan pertama yang akan saya ceritakan kepada anda adalah Rozak. Ia setengah bos saya. Maksudnya begini: saya bukan pegawainya. Tidak setiap hari saya bekerja untuknya. Saya hanya sesekali membantunya mengurus beberapa hal, dan ia akan memberi upah layak untuk setiap apa-apa saja yang saya kerjakan. Karena alasan inilah saya pantas memanggilnya bos.
Permasalahannya adalah: saya sering repot dengan permintaannya yang seenaknya sendiri, dan aneh-aneh, tanpa bertanya apakah saya sanggup atau tidak, seperti kejadian dua minggu yang lalu.
Waktu itu saya sedang sibuk dengan pekerjaan, tiba-tiba saja ia menelepon.
“Kau dimana?” tanya Rozak. “Saya sudah mengirim uang ke rekeningmu, tolong bantu saya mengurus mayat bule asal Serbia ini.”
“Pak, saya belum pernah mengirim mayat. Yang betul saja, pak?”
“Tak apa. uangnya lumayan, lho. Habis kerja datanglah ke rumah. Saya akan menjelaskan lebih detailnya di rumah,”
Teleponnya segera ditutup.
Seusai bekerja saya tak langsung ke rumah Rozak. Alasan yang pertama karena saya masih ragu apakah akan menerima pekerjaan ini atau tidak. Sedangkan alasan yang kedua saya pengin makan terlebih dahulu karena sudah lapar.
Saya tidak peduli kalau ia menunggu. Ini bukan pekerjaan yang biasa buat saya, jelas saya harus mempertimbangkannya dengan matang. Saya tak ingin kerepotan hanya karena tak paham apa yang harus saya lakukan.
Untuk itu saya mengajak salah seorang teman untuk membahas permintaan Rozaq, sambil makan, dan setengah jam kemudian kami memutuskan untuk mengambil pekerjaan ini berdua. Kami sepakat pembagian bayarannya enam lima untuk saya dan sisanya boleh ia bawa pulang.
Setelah makan kami rampung dan pembagiannya cocok baru kami mengunjungi rumah Rozaq.
“Kenapa baru datang?” tanya Rozak setelah kami duduk di ruang tamunya.
“Saya dapat shift siang. Malam baru selesai.”
“Yasudah, tak apa. Ini ada bule mati karena kecelakaan tunggal. Tolong bantu saya mengurus surat-suratnya, supaya dapat dipulangkan.”
“kapan matinya?”
“Lima hari yang lalu. Kau tahu, kan, kalau saya punya kenalan orang Turkish Airways? Salah satu pegawai Turkish yang meminta tolong kepada saya untuk mengurusnya. Ternyata bule ini saudaranya,” terang Rozak. “Ini dokumennya. Kalau bisa secepat mungkin. Mereka sudah tidak sabar soalnya.”
Setelah menerima dokumen-dokumen dari Rozak, saya dan teman saya pulang ke indekos kami masing-masing.
Paginya, ketika matahari sudah mulai terik, saya dan teman saya berangkat menuju rumah sakit, untuk menjalankan tugas yang kami emban. Sebetulnya kami berencana datang lebih pagi. Tapi, berhubung kami berdua sama-sama terlambat bangun, akhirnya kami baru berangkat pukul setengah sepuluh.
Begitu sampai di rumah sakit, kami segera menyusuri ruangan-ruangan yang dipenuhi bau obat dan orang tidak sehat, hingga sampai ke kamar mayat.
Saya merasa mual ketika melihat kondisi mayat tersebut. Ini pertama kalinya saya melihat mayat korban kecelakaan (walaupun tubuhnya sudah dibersihkan tetap saja saya merasa mual). Karena tidak tahan, saya segera ke kamar mandi dan muntah-muntah di sana, lalu pergi ke kantin memesan teh panas untuk menghilangkan rasa muntahan di lidah dan menghangatkan badan.
Sebetulnya saya tak habis pikir bagaimana cara bapak atau ibu petugas kamar mayat dapat bertahan selama bertahun-tahun tanpa rasa takut. Apakah mereka tak pernah merinding ketika berada di kamar mayat sewaktu malam hari? Mungkin mereka punya pegangan atau apa, sehingga tubuhnya kebal dan tak pernah diganggu setan.
“Bagaimana?” tanya kawan saya sambil mengumbar senyum hinaan, ketika menghampiri saya di kantin rumah sakit.
“Sudah baikan. Bangsat memang si Rozak, permintaannya selalu saja aneh-aneh,” umpat saya.
Teman saya hanya menanggapi dengan tawa.
“Tapi, kan, kau butuh uangnya?”
“Tentu saja. Mana mungkin saya mau menolongnya melakukan hal ini dengan cuma-cuma?” jawab saya dengan ketus.
Teman saya kembali tertawa.
“Eh, apakah saya sudah cerita tentang kiriman paket berisi tas dari Australia?”
“Belum,” jawabnya. “Memang ada apa?”
“Tiga hari yang lalu, ketika saya dapat shift tiga, saya menemukan sabu-sabu di dalam tas tersebut.”
“Yang betul?”
“Serius. Kejadiannya malam, sekitar setengah dua belas,” cerita saya. “Karena malas, saya ngomong sama Hari, orang bea cukai itu: ‘bagaimana kalau sampel saja yang di scan? Sudah malam ini pak, saya ngantuk.’ Karena kami berdua sama-sama sudah mengantuk, ia menyetujui permintaan saya. Dari dua puluh empat tas yang saya lupa mereknya itu, hanya satu yang kami scan, dan tas tersebut berisi sabu-sabu.”
“Lalu tas lainnya?”
“Hanya tas itu yang ada isinya. Yang lain kosongan seperti tas baru pada umumnya. Apa jadinya coba kalau kami salah scan tas? Lolos itu narkoba.”
“Palingan, kalau bandarnya tertangkap, kau dan pak Hari bakalan dicari polisi untuk dimintai keterangan.”
“Betul. Aku harus bolak-balik ke kantor polisi, ma-las se-ka-li!”
“Lalu alamat tujuannya ke mana?”
“Di Denpasar. Aku lupa detailnya. Kalau dari namanya, sih, orang Jawa.”
Setelah minuman saya tandas, kami mendatangi bagian administrasi, mengurus dokumen-dokumen kepulangannya, serta meminta tolong mereka untuk membuatkan peti mati seukuran mayat tersebut.
“Untuk mengambil jenazah ini, perlu ada surat dari kantor polisi. Soalnya jenazah meninggal karena kecelakaan, bukan kematian wajar seperti yang lain-lain,” terang orang administrasi yang saya lupa namanya.
“Iya, habis dari sini saya akan ke kantor polisi buat mengurus surat tersebut. Saya minta tolong dibantu, pak. Surat dari kantor polisi nanti saya susulkan. Yang penting jenazahnya dapat segera di angkut sekembalinya saya dari kantor polisi,” mohon saya, karena sudah tak sabar ingin segera kelar. “Apakah peti jenazah buat mengangkut bisa selesai hari ini?”
“Saya usahakan nanti sore sudah bisa diambil.”
“Terima kasih, pak.”
Kami segera menuju kantor polisi.
Sesampainya di kantor polisi, kami dibawa ke sebuah ruangan, tempat duduk kepala bagian yang mengurusi kecelakaan.
“Jadi, siapa namanya? Igor Savicevic, ya? Mau dipulangkan ke rumahnya, ya?” tanya bapak polisi yang duduk di hadapan kami, tanpa menunggu jawaban dari kami. Ia membolak-balik dokumen yang saya bawa. “Dokumennya lengkap kok. Nanti salah satu dari kalian isi data-data di depan, ya. Untuk pengantar pengambilan jenazahnya, ya.”
“Iya, pak.”
Kami memutuskan untuk kembali ke kantor. Kalau saya sih, tak begitu peduli. Tapi, kawan saya tak ingin membolos. Oleh sebab itu, setelah dokumennya selesai dibikin, kami ke kantor terlebih dahulu walaupun telat, untuk melanjutkan pekerjaan harian yang sempat kami tinggalkan, dan meneruskan misi mengirim mayat sepulang kerja.
Saya sudah tidak begitu peduli dengan urusan kantor tempat saya bekerja karena tak kerasan lagi. Sebetulnya dulu saya orang yang bersemangat. Semua pekerjaan saya selesaikan dengan baik. Tetapi, beberapa bulan belakangan, karena beragam hal, termasuk kebijakan-kebijakan manajemen yang membikin geleng-geleng kepala, semangat saya untuk bekerja semakin menurun. Selain itu, ketika saya melakukan pekerjaan lebih baik dari orang lain, saya juga tak memperoleh apa-apa. Permintaan saya untuk menjadi pegawai tetap juga tak digubris.
Lalu, apa alasan saya untuk giat bekerja? Sekarang saya lebih sering menolak permintaan atasan untuk tukar shift atau lembur, karena itu hal yang melelahkan. Lagipula sekarang tak ada alasan untuk menerimanya. Jadi, diberi surat peringatan juga tidak apa-apa.
Tunggu-tunggu, kenapa saya malah cerita pekerjaan saya? Sebentar, saya lanjutkan, ya.
Setelah selesai bekerja, saya dan teman saya kembali ke rumah sakit. Sebelumnya saya sudah memberi kabar kepada orang administrasi rumah sakit lewat telepon, kalau mayat bule itu akan kami bawa ke bandara pada malam hari. Memang itu di luar kebiasaan mereka. Tapi, setelah memberi penjelasan tentang keadaan kami yang harus bekerja terlebih dahulu, akhirnya mereka memaklumi permintaan kami.
Ketika tiba di rumah sakit, mayat bule tersebut sudah siap dikirim. Dokumen pemetian dan dokumen pengawetan dan sertifikat medis kematian juga sudah jadi. Selain itu, mobil ambulan yang digunakan untuk membawa mayat tersebut juga sudah siap. Saya segera mengucap terima kasih kepada orang-orang bagian administrasi, karena sudah sangat baik kepada kami, dan segera berangkat tanpa menunggu terlalu lama lagi.
Sesampainya di bandara, kami menitipkan mayat tersebut di gudang kargo, lalu menuju ke rental video game, mendatangi kawan kami yang sudah menunggu di sana. Rencana kami memang seperti itu. Perkara mengirim mayat akan kami lanjutkan keesokan paginya, karena tawaran pertandingan sepakbola tak sepatutnya di tolak oleh siapa saja.
Setengah empat, ketika langit masih gelap, ketika kami hendak pulang dari rental video game, setelah beradu argumen dengan kawan saya terkait masalah mayat bule tersebut, saya memutuskan untuk pergi ke ruang karantina saat itu juga, supaya mayat tersebut dapat segera diterbangkan sehingga urusan kami dengan Rozak cepat usai.
“Ini belum pagi,” cegah teman saya.
“Ruang karantina, kan, buka dua puluh empat jam? Saya akan mengantarmu balik ke indekos, setelah itu saya akan mengurusnya sendiri.”
“Tak apa?”
“Tak apa, tenang saja.”
Saya mendatangi ruang karantina ketika petugas jaga sedang tidur. Saya mencoba membangunkan petugas karantina dengan sopan, supaya tak membuatnya naik darah. Petugas tersebut lantas terbangun, memandang wajah saya dengan tampang malas dan tanggapan dingin. Saya hanya tersenyum sambil mengucap permintaan maaf.
“Datangmu kurang pagi,” kata salah satu penjaga ruang karantina yang saya bangunkan.
“Maaf pak,” jawab saya. “Saya pengin urusan saya dengan mayat ini cepat kelar, biar bisa segera istirahat.”
Karena tak enak kalau langsung pergi, saya mengobrol banyak di ruang karantina, bersama dua orang petugas yang membantu saya mengurus surat ijin terbang. Saya lupa apa yang kami perbincangkan karena saat itu saya sudah sangat lelah dan mengantuk, membikin susah buat berkonsentrasi. Sepertinya kami mengobrol tentang tingkah orang-orang yang kami kenal di sekitaran bandara. Sepertinya memang itu yang kami bicarakan.
Selang beberapa waktu, saya mohon diri dan mendatangi konter air waybill, supaya mayatnya dapat segera diberangkatkan.
Saya meninggalkan dokumen-dokumen di atas meja orang-orang yang mengurus air waybill, tanpa perlu menjelaskan, karena mereka sudah paham apa yang saya butuhkan kalau mendatangi mereka. Setelah mengucap terima kasih saya bergegas menuju ke tempat parkir yang sunyi walaupun penuh kendaraan, untuk segera pulang ke indekos dan bolos kerja, karena mata saya sudah berat.
“Ini masalah jenazahnya sudah beres, pak. Berangkat pukul setengah satu siang,” ucap saya di telepon setelah keluar dari konter air waybill.
“Cepat sekali,” ucap Rozak dengan senang. “Tak salah aku minta tolong kepadamu.”
Sesampainya di indekos, saya menyalakan musik yang ada di laptop, lalu memejamkan mata.
Aku tak menangisimu huhuhu. Ku masih bisa tertawa hahaha.
Sambil diiringi musik, saya tertidur, tanpa berpikir apakah mayat itu sampai tujuan atau tidak.