Terkadang, dalam upaya untuk mewujudkan mimpi besar kita, ada beberapa hal yang harus kita korbankan, entah waktu kita, entah keluarga kita, entah teman-teman kita, entah apapun yang ada di dalam hidup kita. Ketika ingin jadi pengembara, misalnya, kau harus meninggalkan keluargamu untuk jangka waktu yang lumayan lama. Atau ketika ingin membuat tulisan, kau harus mengorbankan waktu berjam-jam, bahkan bisa saja memakan waktu bertahun-tahun hingga apa yang kau tulis dapat selesai. Begitu selesai, kau baru sadar kalau beberapa hal telah terlewat, dan kelak kau hanya tahu berkat cerita dari orang lain, tanpa pernah benar-benar merasakannya sendiri. Contoh yang paling gampang, kehilangan kesempatan untuk bertemu kawan yang sudah lama sekali tak ada kabar?
Tak terkecuali korporasi, mereka juga sama. Perusahaan milik keluarga Mirando, mereka juga sama.
Perusahaan Mirando pernah mengorbankan lingkungan, membuang bahan kimia ke sebuah danau dan menimbulkan ledakan, dan menjadi sejarah memalukan dalam perusahaan mereka. Lalu munculah Lucy Mirando yang mempunyai mimpi besar, ingin memperbaiki citra perusahaan yang sebelumya dibenci oleh para pencinta lingkungan, menjadi sebuah perusahaan yang dicintai oleh orang-orang.
Upayanya pun tak tanggung-tanggung. Mereka membikin spesies babi baru, yang berukuran super besar --mungkin seukuran badak, sebagai produk andalan. Supaya lebih meyakinkan lagi, mereka memilih para peternak babi terbaik dari berbagai negara dan meminta tolong mereka untuk merawatnya hingga dewasa, kurang lebih sepuluh tahun, hingga babi tersebut layak untuk dipanen. Dengan begitu, harapannya, perusahaan mereka dapat berubah menjadi perusahaan yang tampak ramah lingkungan bagi orang-orang.
Film ini berkisah tentang usaha Mija, anak salah seorang petani terpilih, yang tidak rela kalau babinya yang bernama Okja diambil kembali oleh perusahaan Mirando. Mija yang juga memiliki mimpi untuk selalu bersama dengan Okja, bahkan rela berbuat nekat dan membuatnya terseret ke dalam beragam hal yang rumit. Hingga akhirnya, ia harus merelakan patung babinya yang terbikin dari emas murni menjadi milik Nancy Mirando untuk menebus Okja.
Bong Joon-Ho membangun cerita dengan rasa yang berbeda dari beberapa film yang pernah ia garap sebelumnya, namun tetap menyelipkan humor gelap yang terkadang membuat saya tersenyum geli --mengutip bebas dari kalimat Mario Vargas Llosa: humor adalah harta yang melimpah, sebuah elemen kehidupan. Sebagai contoh: usaha Lucy Mirando untuk membangun citra yang baik pada perusahaannya membikin saya tertawa. Ia bahkan berkali-kali merasa jengkel karena ada saja masalah yang terjadi, sehingga mau tidak mau ia harus mengubah rencananya untuk memperbaiki keadaan. Namun usahanya tak gampang, karena selain Mija, masih ada organisasi pencinta hewan yang selalu berusaha untuk merusak rencananya. Dipimpin oleh seorang pria yang sepertinya terkena sawan, para pencinta hewan melakukan beragam cara untuk membongkar aib perusahaan Mirando, walaupun sepertinya usaha para pencinta hewan tersebut berakhir dengan sia-sia.
Pada umumnya, orang-orang lebih senang kalau keburukannya tak pernah terendus oleh orang lain (beberapa seleb youtube yang senang mengumbar aibnya kita abaikan dalam hal ini). Daripada melakukan hal yang benar-benar baik, kita lebih sering mencoba menutupi keburukan atau kesalahan kita, dengan menyalahkan keadaan atau menyalahkan orang lain. Itu lebih gampang. Harus saya akui, saya sama saja. Sampai sekarang pun saya masih sering melakukan hal tersebut. Mungkin saya perlu introspeksi diri, merenungkan kembali apa saja yang saya lakukan hingga hari ini, dan berjanji dalam hati untuk tidak mengulang kembali hal-hal buruk, yang dapat mengecewakan diri saya, terlebih lagi orang lain di sekeliling saya.
0 komentar:
Posting Komentar