Selasa, 24 Mei 2016

Fotografi Populer

Seiring kemajuan teknologi, fotografi terus tumbuh menjadi salah satu medium yang sangat dekat dengan manusia. Nirwan Ahmad Arsuka mengungkapkan bahwa jika seni rupa adalah sastra, dan lukisan adalah puisi, maka fotografi adalah bahasa. Antara lain karena kemampuannya yang tanpa preseden dalam mengabadikan dan menggandakan semua citra (bukan hanya yang bisa langsung dicerap), fotografi memang bukan lagi sekadar sebuah bentuk seni; ia lebih luas dari seni. 
Pertama kali muncul, fotografi dengan entengnya menggeser kedudukan lukisan sebagai medium dokumentasi. Dengan waktu eksekusi yang relatif lebih singkat, orang-orang lantas berduyung-duyung meninggalkan lukisan. Kelak lukisan akan berdiri sendiri sebagai salah satu cabang seni, tidak hanya sebagai alat dokumentasi. Berubah menjadi alat untuk ekpresi, serta, yang lebih kontemporer, sebagai wujud dari suatu gagasan. 
Awalnya banyak yang menganggap fotografi bukan bagian dari seni karena beragam hal. Termasuk salah satunya, karena prosesnya yang kimiawi dan bertentangan dengan asas dalam memproduksi suatu karya seni. Namun, semakin kesini fotografi semakin diakui. Fotografi mulai masuk ke galeri-galeri seni, serta, diundang dalam pagelaran-pagelaran seni yang diadakan setiap tahun oleh beragam komunitas seni. 
Sekarang, setiap hari, kita selalu diserbu dengan beragam foto yang di unggah orang-orang melalui media sosial. Tengoklah instagram sebagai contoh. Dalam sehari, ada jutaan foto yang diunggah. Foto yang ditampilkan pun beragam; mulai dari kegiatan sehari-hari, makanan, hingga gambar-gambar seronok dapat kita jumpai dengan mudah (kalau belum dihapus oleh pihak instagram tentu saja). 
Dengan semakin mudahnya memotret, anda tahu, semua orang bisa menjadi juru foto. Kita dapat melihat di sekeliling kita, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa menggunakan ponselnya untuk merekam apa yang mereka lihat. Tidak ada masalah. Mereka semua senang dan bahagia dengan apa yang telah mereka lakukan. 
Yang mengganggu saya adalah ketika orang-orang tersebut mulai mengikrarkan diri sebagai “fotografer”. Dengan berbekal kamera berharga mahal, mereka mulai memotret apa saja, lalu dengan bangganya mengatakan kalau karyanya sebuah masterpiece, tanpa pernah paham foto yang “bagus” itu seperti apa. Foto-foto bergaya populer dengan mudah tumbuh pesat, mungkin, karena “zona nyaman” yang diciptakan para pegiat foto membuat mereka terbuai. 
Eka Kurniawan, dalam blog pribadinya, pernah menulis kurang lebih seperti ini: “Karya yang bagus adalah karya yang dapat membuat saya pergi kemana-mana”. Ketika semua orang memotret dengan gaya yang seragam, dengan isi yang begitu-begitu saja, lantas apakah anda akan pergi kemana-mana? Apakah anda memperoleh pengalaman baru yang tertanam di dalam kepala anda? 
Orang tanpa memiliki kecakapan mumpuni, tentu saja, akan membuat karya yang buruk. Untuk menghindari hal tersebut, sudah semestinya upaya untuk belajar lebih digiatkan. Para pelaku foto mesti banyak belajar tentang bagaimana memproduksi suatu karya. Mereka juga perlu memperdalam disiplin ilmu lain, sehingga, karya-karya yang mereka hasilkan semakin berkembang, tidak berkutat di kubangan yang itu-itu saja. 
Beruntung saat ini masih ada komunitas-komunitas fotografi –walaupun masih minoritas, serius mengembangkan fotografi. Jadi, walaupun berada di tengah derasnya arus fotografi populer, kita masih diberi kesempatan untuk melihat karya-karya baru bermunculan. 
Para pegiat foto tidak perlu memikirkan eksistensi fotografi. Susan Sontag sudah dengan jelas mengungkapkan bahwa semua karya seni ingin seperti fotografi, yang sangat dekat dengan masyarakat dan berada di tengah-tengah masyarakat. Yang perlu dilakukan sekarang adalah menambah ruang diskusi dan memperluas materi diskusi, sehingga karya fotografi dapat semakin berkembang. Karena, karya yang bagus adalah karya yang membawa kebaharuan; baik dari segi bentuk maupun isi.