Selasa, 07 Juni 2016

Cinta Sejati yang Sudah Lewat



Wanita itu mendatangi kami, dengan menyeret tubuhnya dan memanggul keranjang, lalu sekelebat saja sudah menyodorkan bungkusan yang berisi bandeng presto. Tubuhnya dipenuhi peluh dan wajahnya tampak letih. Dengan semangat yang belum pudar, sambil tersenyum, ia menawarkan kepada kami untuk membawa pulang barang dagangannya. Keramahannya memang membuatku sedikit merasa iba, namun, aku sedang tidak ingin membeli bandeng. Urusan kami lebih pelik dari sekedar membelinya, oleh karena itu, setelah ia mengkhatamkan kalimatnya, aku menolak tawaran itu dan membiarkannya pergi begitu saja.
Setelah wanita itu pergi aku kembali diam.
Sejak awal kami datang dan duduk di tempat ini, keadaan kami memang tidak baik-baik saja. Dua hari yang lalu ia mengatakan kepadaku kalau akan pergi. Kalimat itu sebenarnya bukan masalah besar karena orang-orang memang suka berpergian. Tetapi, embel-embel setelah kalimat pergi lah yang mengganggu isi kepalaku. Seusai ia menutup teleponnya, kalimat-kalimat itu masih berdengung di telinga dan membuat hari-hariku kecut dan tidur tidak nyenyak. Omongannya menggangguku hingga hari ini.
Aku memandangi jalanan sambil menopang dagu dengan tangan kiri, sambil sesekali menghisap rokok yang terselip di tangan kanan. Jalanan yang selalu ramai masih dilewati oleh bermacam kendaraan, gedung-gedung masih berdiri kokoh dan entah kapan akan rubuh, tukang tambal ban di seberang jalan masih sibuk dengan peralatannya padahal matahari bersinar seenaknya sendiri tanpa peduli kami kepanasan atau tidak.
Aku hanya memandangi jalanan karena sedang malas melihat wajahnya.
Biasanya aku membuat lingkaran asap dari mulutku kalau sedang merokok, namun kali ini tidak. Aku tidak sedang baik-baik saja sehingga malas melakukan banyak hal. Tidak ada juga keinginan untuk menanyakan apa yang ia lakukan dari pagi, tadi pagi sarapan apa, serta pertanyaan-pertanyaan remeh lain seperti yang sering aku lakukan sebelumnya.
Aku hanya ingin waktu berputar lebih cepat sehingga tidak melihat wajahnya lagi. Mau berusaha seramah apapun kepadanya di raut wajahku, di dalam dadaku berasa seperti sedang ditanami batu yang membikin berat atau bekas sayatan pisau yang membikin luka. Kurasa lagu-lagu sendu dapat menyelamatkan hatiku karena orang-orang sering melakukannya, dan kata mereka terbukti ampuh menentramkan hati yang gundah-gulana. Mungkin setelah ini aku perlu mencoba.
Tubuh Mira membungkuk bukan karena penyakit kifosis yang menyerang tulang belakang, tetapi karena ia sedang asik dengan ponselnya. Entah apa yang sedang dilakukannya –sejak kami duduk di tempat ini kepalanya selalu menunduk seperti ahli ibadah yang sedang berdoa. Aku takut orang yang duduk di belakangnya menganggapku melakukan hal-hal yang tidak baik kepadanya.
Ketika menengok ke atas meja, kopiku sudah tandas dan menyisakan ampas. Aku celingukan sebentar; melihat sekeliling, sepi, walaupun beberapa orang sedang duduk dan menikmati minumannya. Ini memang bukan tempat untuk berteriak-teriak seperti lapangan sepakbola atau ruang karaoke, jadi sudah sepantasnya kalau tempat ini sunyi. Kalau saja ada orang yang berteriak, mungkin pihak keamanan sudah melemparnya ke jalanan, atau yang paling parah, menginap semalam di jeruji besi karena mengganggu ketertiban umum.
“Apa yang kau cari?” tanya Mira.
“Aku ingin memesan secangkir lagi. Boleh, kan?”
“Terserah, masih ada satu setengah jam sebelum aku berangkat.”
Setelah tampak di ujung mata seorang perempuan memakai seragam hitam memandangku, kuangkat tangan kanan sebagai tanda untuk memanggilnya. Beberapa saat saja ia sudah berdiri di hadapanku.
“Ada yang bisa saya bantu?” Tanya perempuan berseragam.
“Aku mau kopi itu secangkir lagi,” tunjukku ke arah gelas kopi di atas meja.
“Ada pesanan lain?” tanya perempuan itu sambil mencatat.
“Itu saja.”
“Baik, terima kasih, silahkan ditunggu,” ucap perempuan itu kemudian segera pergi.
“Kau marah kepadaku Ben?” tiba-tiba ia bertanya kepadaku.
“Kenapa aku harus marah? Ini mimpimu, mimpi memang harus diwujudkan. Aku tidak ingin merusak mimpi orang lain. Kalau aku mencegahnya, kau yang akan marah kepadaku.”
“Berarti kau marah?”
“Enggak.”
Tak ada kalimat lain lagi di antara kami setelah jawabanku terucap.
Jarum jam bergerak dari angka dua belas menuju angka dua belas lagi dan hanya berkutat di situ-situ saja. Setelah jarum tersebut berkeliling selama lima menit, perempuan berseragam mendatangi meja kami dan membawakan pesananku. Sambil tersenyum perempuan itu menaruh kopi yang aku pesan di atas meja dan memintaku untuk menikmatinya. Aku mengucapkan terima kasih dan setelah ia pergi, aku segera meneguk sedikit untuk membasahi kerongkonganku yang mulai kering karena rokok.
***
“Lalu, dimana kau akan tinggal?”
“Di sana kosong,” Tunjuk Mira ke arah bangku kosong.
Kami melangkah bersandingan menuju tempat kosong di sudut ruang. Orang-orang tidak memperhatikan kami. Memang, setiap orang punya urusan masing-masing dan tidak penting untuk mengamati kami berdua berjalan melewatinya. Kalaupun ada yang tanpa sengaja memandang kami, orang itu hanya akan mengamati beberapa saat kemudian melanjutkan kegiatannya kembali tanpa memperdulikan lagi apa yang kami lakukan.
“Tadi apa? Kau bertanya apa kepadaku?” tanya Mira selepas kami menempelkan pantat kami di atas kursi.
“Dimana kau akan tinggal?” aku menghela nafas, “Maksudku, apakah kau sudah dapat tempat tinggal di sana?”
“Untuk beberapa hari ke depan, aku akan tinggal di rumah Wira. Kau tahu, kan? Anak om Prapto yang tiga minggu lalu datang ke rumahku? Ia yang menawariku pekerjaan ini, dan ia juga menawariku tempat tinggal kalau aku mau bekerja di sana.”
“Beruntung kau punya saudara yang baik.”
Aku tahu Wira itu saudaranya, tapi entah kenapa perasaan ini menjadi lebih tak keruan. Batu yang ada di dadaku menjadi lebih besar lagi. Ingin rasanya untuk mengatakan kalau Mira tidak perlu tinggal bersamanya, namun apa daya. Mau bagaimanapun, Wira adalah saudaranya dan sebagai seorang saudara yang baik ia harus memastikan Mira aman tinggal di ibukota. Lagipula, orang tua Mira pasti lebih setuju kalau Mira tinggal bersama Wira daripada harus kos di tempat asing.
Terdengar suara wanita dengan pengeras suara dan meminta para penumpang untuk segera masuk ke dalam gerbong karena kereta akan segera berangkat.
Matahari sudah tidak begitu terik, tetapi, entah kenapa aku masih merasa gerah. Mungkin karena Mira akan pergi, atau mungkin juga ada alasan lain yang aku sendiri belum sadar apa itu karena isi kepalaku masih kacau.
“Aku harus segera pergi,” ucap Mira.
Mira kemudian berdiri, memeriksa, dan memastikan barang yang akan dibawanya telah siap semua tanpa ada yang tertinggal. Aku juga berdiri. Setelah memastikan semua barang bawaannya siap, Mira mengecup pipiku. Hampir saja air mataku jebol. Untung aku mampu bertahan sehingga tidak ada yang mentertawakanku.
“Kau yakin akan pergi?”
“Ben, mungkin ini satu-satunya kesempatan dalam hidupku. Kalau aku tidak mengambil kesempatan ini, aku akan menyesal seumur hidup,” Mira tersenyum, “Kau pasti akan menemukan perempuan yang lebih baik dariku, yang lebih bisa mengerti dirimu.”
Entah kenapa ia menggunakan pernyataan klise untuk berpisah denganku. Ini bukan cerita tv dan aku tidak akan berusaha mencarinya di ibukota, apalagi memaksa bertemu dengannya setelah beberapa tahun berpisah dan membuat kami lagi-lagi saling jatuh cinta. Ini adalah perpisahan yang terakhir untuk kami. Ia akan melanjutkan hidupnya di sana, dan aku akan melanjutkan hidupku di sini tanpa pernah bertemu lagi.
“Jaga dirimu baik-baik.”
Itu kalimat terakhirku, dan setelah menyelesaikan kalimat itu aku hanya melihat punggungnya menjauh, hingga hilang ditelan bangunan ini. Setelah ia lenyap, aku kembali duduk lalu menyalakan rokok. Aku tidak memikirkan hal remeh seperti di tempat ini aku boleh merokok atau tidak. Mungkin akan ada beberapa orang yang menegurku namun aku tidak peduli. Dadaku benar-benar sesak dan hanya rokok yang mampu menyelamatkan dadaku saat ini.
Ingin rasanya aku melompat ke dalam polder air di depan stasiun. Namun, ketika ingat kalau banyak tukang becak dan tukang ojek yang kencing di sana, aku segera mengurungkan niatan itu. Mati karena meminum air kencing bukan hal yang mengesankan dan hanya akan menjadi bahan omongan orang-orang.
Lebih baik aku mati ditabrak kereta yang Mira tunggangi. Dengan begitu Mira akan tahu kalau aku mati. Mira akan tahu kalau aku merasa kehilangan. Aku tak sanggup menahan batu di dadaku yang terus saja menjadi besar. Jadi, ketika mengadu tubuhku dengan kereta, aku berharap batu itu akan segera terlepas dari tubuhku dan tidak akan ada beban lagi yang harus kutanggung. Bahkan, aku berharap kalau batu itu terlempar ke dada Mira supaya ia juga merasakan apa yang aku rasa.

Selasa, 24 Mei 2016

Fotografi Populer

Seiring kemajuan teknologi, fotografi terus tumbuh menjadi salah satu medium yang sangat dekat dengan manusia. Nirwan Ahmad Arsuka mengungkapkan bahwa jika seni rupa adalah sastra, dan lukisan adalah puisi, maka fotografi adalah bahasa. Antara lain karena kemampuannya yang tanpa preseden dalam mengabadikan dan menggandakan semua citra (bukan hanya yang bisa langsung dicerap), fotografi memang bukan lagi sekadar sebuah bentuk seni; ia lebih luas dari seni. 
Pertama kali muncul, fotografi dengan entengnya menggeser kedudukan lukisan sebagai medium dokumentasi. Dengan waktu eksekusi yang relatif lebih singkat, orang-orang lantas berduyung-duyung meninggalkan lukisan. Kelak lukisan akan berdiri sendiri sebagai salah satu cabang seni, tidak hanya sebagai alat dokumentasi. Berubah menjadi alat untuk ekpresi, serta, yang lebih kontemporer, sebagai wujud dari suatu gagasan. 
Awalnya banyak yang menganggap fotografi bukan bagian dari seni karena beragam hal. Termasuk salah satunya, karena prosesnya yang kimiawi dan bertentangan dengan asas dalam memproduksi suatu karya seni. Namun, semakin kesini fotografi semakin diakui. Fotografi mulai masuk ke galeri-galeri seni, serta, diundang dalam pagelaran-pagelaran seni yang diadakan setiap tahun oleh beragam komunitas seni. 
Sekarang, setiap hari, kita selalu diserbu dengan beragam foto yang di unggah orang-orang melalui media sosial. Tengoklah instagram sebagai contoh. Dalam sehari, ada jutaan foto yang diunggah. Foto yang ditampilkan pun beragam; mulai dari kegiatan sehari-hari, makanan, hingga gambar-gambar seronok dapat kita jumpai dengan mudah (kalau belum dihapus oleh pihak instagram tentu saja). 
Dengan semakin mudahnya memotret, anda tahu, semua orang bisa menjadi juru foto. Kita dapat melihat di sekeliling kita, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa menggunakan ponselnya untuk merekam apa yang mereka lihat. Tidak ada masalah. Mereka semua senang dan bahagia dengan apa yang telah mereka lakukan. 
Yang mengganggu saya adalah ketika orang-orang tersebut mulai mengikrarkan diri sebagai “fotografer”. Dengan berbekal kamera berharga mahal, mereka mulai memotret apa saja, lalu dengan bangganya mengatakan kalau karyanya sebuah masterpiece, tanpa pernah paham foto yang “bagus” itu seperti apa. Foto-foto bergaya populer dengan mudah tumbuh pesat, mungkin, karena “zona nyaman” yang diciptakan para pegiat foto membuat mereka terbuai. 
Eka Kurniawan, dalam blog pribadinya, pernah menulis kurang lebih seperti ini: “Karya yang bagus adalah karya yang dapat membuat saya pergi kemana-mana”. Ketika semua orang memotret dengan gaya yang seragam, dengan isi yang begitu-begitu saja, lantas apakah anda akan pergi kemana-mana? Apakah anda memperoleh pengalaman baru yang tertanam di dalam kepala anda? 
Orang tanpa memiliki kecakapan mumpuni, tentu saja, akan membuat karya yang buruk. Untuk menghindari hal tersebut, sudah semestinya upaya untuk belajar lebih digiatkan. Para pelaku foto mesti banyak belajar tentang bagaimana memproduksi suatu karya. Mereka juga perlu memperdalam disiplin ilmu lain, sehingga, karya-karya yang mereka hasilkan semakin berkembang, tidak berkutat di kubangan yang itu-itu saja. 
Beruntung saat ini masih ada komunitas-komunitas fotografi –walaupun masih minoritas, serius mengembangkan fotografi. Jadi, walaupun berada di tengah derasnya arus fotografi populer, kita masih diberi kesempatan untuk melihat karya-karya baru bermunculan. 
Para pegiat foto tidak perlu memikirkan eksistensi fotografi. Susan Sontag sudah dengan jelas mengungkapkan bahwa semua karya seni ingin seperti fotografi, yang sangat dekat dengan masyarakat dan berada di tengah-tengah masyarakat. Yang perlu dilakukan sekarang adalah menambah ruang diskusi dan memperluas materi diskusi, sehingga karya fotografi dapat semakin berkembang. Karena, karya yang bagus adalah karya yang membawa kebaharuan; baik dari segi bentuk maupun isi.

Rabu, 09 Maret 2016

PAN

(Knut Hamsun)


I
Akhir-akhir ini aku hanya merenung dan terus merenungkan musim panas Nordland, termasuk hari-hari terakhir yang telah kujalani. Aku duduk di sini dan memikirkannya, di gubukku, bersama tumpukan kayu yang terhampar di belakang gubuk. Lalu menuliskannya, sekedar membuang waktu; untuk menghibur diriku sendiri, tidak lebih. Waktu berjalan sangat lamban; aku tidak dapat semauku mempercepatnya, walaupun berlalu tanpa kesedihan, ataupun hari-hari yang menyenangkan. Aku baik-baik saja dengan hal itu, lagi pula, umur tiga puluh bukan umur untuk mengeluh.
Beberapa hari yang lalu seseorang mengirimiku dua bulu. Dua bulu burung di lembaran catatan-kertas bertanda, dan diikat dengan segel. Dikirim dari tempat yang jauh; dari seseorang yang tak berharap bulu itu dikembalikan. Yang mengejutkan, itu adalah dua bulu hijau yang menakutkan.
Dan sisanya tidak ada masalah, kecuali nyeri di kaki kiriku, dari bekas luka tembakan, yang telah lama sembuh.
Dua tahun yang lalu, aku masih ingat, waktu berjalan sangat cepat –dibandingkan saat ini tentu saja. Musim panas terlewat sebelum aku menyadarinya. Dua tahun lalu, itu tahun 1855. Aku akan menuliskannya untuk menghibur diriku sendiri –sesuatu yang terjadi kepada diriku, atau sebenarnya yang aku impikan. Sekarang aku memang melupakan banyak hal yang terjadi pada waktu itu, ketika mencoba mengingatnya. Tapi aku ingat kalau masa itu malam sangat terang. Dan banyak hal terlihat mengherankan dan tidak biasa. Dua belas bulan dalam setahun –dengan malam yang nampak seperti siang, tidak pernah terlihat bintang di langit. Orang yang aku temui terlihat asing, serta lingkungan yang berbeda dari yang sudah kukenal selama ini; terkadang semalam saja sudah cukup untuk membuat mereka tumbuh dari masa kanak-kanak menuju era emas mereka, matang dan dewasa. Aku tidak membodohi; hanya saja aku belum pernah melihat yang seperti ini sebelumnya. Sama sekali.
Di dekat rumah putih besar yang terletak di pinggir pantai, aku bertemu dengan seseorang yang kelak akan mengganggu pikiranku untuk beberapa waktu. Aku tak pernah memikirkannya sekarang; tidak. Bahkan aku sudah lupa. Tapi, dari semua hal yang berjejal di kepalaku: nyanyian burung laut, saat-saat mencari kayu, kesunyian malam, dan suasana gerah pada musim panas, itu hanya sebuah aksi heroik kecil atas kecelakaan yang terjadi pada dirinya. Ia kemudian hilang begitu saja dalam pikiranku untuk beberapa hari.
Dari gubukku, terlihat batu dan karang dan pulau, sebagian lautan, puncak bukit yang biru, dan di belakang rumah hutan berdiri. Sebuah hutan yang cukup besar, yang menyenangkan dengan aroma akar dan daun, centang dari cemara getah, yang aromanya seperti sumsum. Hanya hutan lah yang mampu menenangkanku; membikin otakku menjadi relaks dan nyaman. Setelah aku menginjakkan kaki di pinggir hutan ini bersama Aesop, tidak ada lagi pikiran untuk pindah dari hari-kehari, dan hanya memikirkan tentang tanah yang dirayapi salju. Sekarang aku tidak bersama Aesop; ini Cora. Tapi, waktu itu aku memang bersama Aesop, anjing yang kelak akan kutembak mati.
Terkadang pada sore hari, saat aku kembali ke rumah dari berburu seharian, aku merasakan hal yang menyenangkan dari ujung kaki hingga ubun-ubun –membuatku sedikit menggigil. Dan aku mencoba bertanya kepada Aesop, bagaimana nyamannya tempat ini. “Sekarang kita akan membuat api, lalu membakar burung di atas tungku,” aku melanjutkan, “Bagaimana pendapatmu?”. Dan setelah matang, kami memakannya, lalu Aesop menyelinap ke tempat persembunyiannya di dekat tungku, sedangkan aku menyalakan pipa rokokku dan bermalas-malasan di atas kursi untuk beberapa saat, mendengarkan nyanyian pepohonan. Adapula suara angin sepoi-sepoi yang malas menghantam gubukku, serta suara berisik burung belibis yang tak jauh dari punggung bukit. Selalu seperti itu.
Seringkali aku tertidur ketika melakukan hal itu, dengan menggunakan pakaian berburu tanpa berganti terlebih dahulu, dan tidak akan bangun sebelum burung laut memekik. Lalu, melirik keluar dari balik jendela, melihat bangunan yang berwarna putih dan besar, tempat berdagang di Girilund, dimana aku biasanya membeli roti. Aku akan menghibur diriku, dengan tercengang, bagaimana aku dapat sampai di sini, di sebuah gubuk di pinggir hutan, sebuah tempat di Nordland.
Lalu Aesop yang berada di samping perapian akan bergerak-gerak cukup lama, meluruskan tubuhnya, menggelengkan lehernya, menguap dan mengibaskan ekornya, dan aku akan berdiri, setelah tertidur selama kurang lebih tiga sampai empat jam, dengan tenaga yang telah terisi penuh dan sangat menikmati semuanya… semuanya.
Malam-malamku biasanya terlewat seperti itu.