Dalam beberapa hari terakhir ini, entah kenapa saya merasa dekat betul dengan Korea Selatan. Pertama. Lini masa media sosial saya berseliweran berita tentang Song Joong-Ki karena teman-teman saya. Katanya beliau hendak bercerai. Saya tak begitu paham apa penyebab perceraian mereka, tetapi, sepertinya itu berita duka bagi teman-teman saya. Memang, perpisahan selalu menyedihkan bagi siapa saja.
Kedua. Saya semalam menonton film Parasite garapan Bong Joon-Ho. Saya menyempatkan diri menonton film tersebut, selain karena saya suka film bikinan Bong Joon-Ho, film tersebut juga mendapat palm d’or (penghargaan untuk film terbaik) di festival film Cannes 2019.
Parasite bercerita tentang keluarga miskin, yang tiba-tiba mendapat pekerjaan di rumah orang kaya. Pekerjaan pertama datang kepada si anak laki-laki yang bernama Ki-Woo. Ia diminta menggantikan kawannya memberikan les bahasa Inggris pada anak perempuan keluarga kaya tersebut. Kemudian si anak perempuan, yang direkomendasikan oleh kakaknya, menjadi guru menggambar bagi anak laki-laki di rumah si keluarga kaya. Kemudian sang ayah berkesempatan menjadi sopir, kemudian sang ibu menjadi pembantu rumah tangga.
Mereka datang ke rumah keluarga kaya tersebut dengan latar keluarga yang berbeda, dan bekerja seolah-olah tak mengenal satu sama lain.
Awalnya semua berjalan dengan lancar, hingga pembantu rumah tangga lama, yang bernama Moon-Gwang, datang lagi ke rumah Mr. Park.
Ketika keluarga Mr. Park pergi berkemah, Moon-Gwang datang ke rumah, sambil memelas, meminta dibukakan pintu. Katanya ia hanya ingin mengambil barang. Namun, begitu masuk ke dalam, Moon-Gwang malah membuka bungker rahasia di lantai bawah, yang ditinggali oleh suaminya. Hanya Moon-Gwang yang tahu bungker tersebut.
Saat di bungker itu juga, keluarga Ki-Woo ketahuan sedang membohongi pemilik rumah oleh Moon-Gwang.
Film ini menggambarkan bagaimana sifat-sifat manusia, dengan perbedaan kehidupan kelas sosial mereka. Ada adegan ayah Ki-Woo menusuk Mr. Park. Penyebabnya sepele, Mr. Park mempermasalahkan bau badan. Sebetulnya itu hanya obrolan remeh yang dapat dilakukan oleh siapa saja. Mungkin, kalau yang mengatakannya orang-orang terdekat keluarga Ki-Woo, hal tersebut tak bakal jadi masalah. Namun, karena itu diucapkan oleh Mr Park, hal tersebut jadi terdengar sebagai penghinaan yang tak termaafkan, yang dapat memancing emosi ayah Ki-Woo.
Keluarga Mr. Park sebetulnya keluarga yang biasa saja. Terlalu biasa malahan. Misalnya: Mereka dengan mudah memecat sopir lamanya karena pancingan adik Ki-Woo. Setelah termakan pancingan adik Ki-Woo, mereka kemudian membangun asumsi-asumsi, tanpa ada verifikasi, dan mengambil kesimpulan berdasarkan asumsi mereka sendiri. Sama seperti kebanyakan orang yang ada di muka bumi ini.
Saya dan orang-orang yang ada di bioskop, yang awalnya tertawa-tawa menonton adegan-adegan lucu dalam film, terdiam menjelang akhir film. Saya tak tahu apa alasan mereka. Sedangkan buat saya, film tersebut membawa saya melihat kembali, bagaimana perbedaan kelas sosial dapat dengan mudah membakar amarah orang.
Ketiga. Saya juga baru saja selesai membaca The Hole karya Pyun Hey-Young. Ini tentang orang yang mulai menyerah dengan keadaan. Novel ini berkisah tentang Oh Gi, penyintas kecelakaan, yang sebagian tubuhnya hancur, dan hampir dipastikan tak dapat sembuh betul. Istrinya meninggal karena kecelakaan itu. Mertuanya, yang sepertinya memendam amarah kepada Oh Gi karena kehidupan masalalu Oh Gi, tak benar-benar serius merawatnya. Ia merasa bimbang. Di satu sisi, ia ingin sembuh kembali. Tapi di sisi lain, ia galau, apakah dapat menjalani hidupnya seperti sediakala dengan tubuhnya yang sudah remuk.
Terkadang hidup melenceng jauh dari rencana kita. Misalnya saja, apa yang dialami oleh Oh Gi. Ia gagal berbaikan dengan istrinya karena kecelakaan. Mimpi-mimpinya juga ikutan kandas karena kecelakaan tersebut. Tak jauh berbeda dengan Oh Gi, Keluarga Ki-Woo juga mengalami hal yang sama. Kejadian di rumah Mr. Park juga di luar rencana mereka dan membikin panik.
Ayah Ki-Woo mengatakan kalau apa-apa saja yang direncanakan pasti akan berakhir dengan kegagalan. Menurutnya rencana terbaik adalah menjalankan semuanya tanpa rencana, sehingga mereka tak akan berjumpa dengan kegagalan.
Lalu, apakah dengan begitu kita tak boleh membuat rencana dalam hidup kita, hanya untuk menghindari sebuah kegagalan?
Kedua. Saya semalam menonton film Parasite garapan Bong Joon-Ho. Saya menyempatkan diri menonton film tersebut, selain karena saya suka film bikinan Bong Joon-Ho, film tersebut juga mendapat palm d’or (penghargaan untuk film terbaik) di festival film Cannes 2019.
Parasite bercerita tentang keluarga miskin, yang tiba-tiba mendapat pekerjaan di rumah orang kaya. Pekerjaan pertama datang kepada si anak laki-laki yang bernama Ki-Woo. Ia diminta menggantikan kawannya memberikan les bahasa Inggris pada anak perempuan keluarga kaya tersebut. Kemudian si anak perempuan, yang direkomendasikan oleh kakaknya, menjadi guru menggambar bagi anak laki-laki di rumah si keluarga kaya. Kemudian sang ayah berkesempatan menjadi sopir, kemudian sang ibu menjadi pembantu rumah tangga.
Mereka datang ke rumah keluarga kaya tersebut dengan latar keluarga yang berbeda, dan bekerja seolah-olah tak mengenal satu sama lain.
Awalnya semua berjalan dengan lancar, hingga pembantu rumah tangga lama, yang bernama Moon-Gwang, datang lagi ke rumah Mr. Park.
Ketika keluarga Mr. Park pergi berkemah, Moon-Gwang datang ke rumah, sambil memelas, meminta dibukakan pintu. Katanya ia hanya ingin mengambil barang. Namun, begitu masuk ke dalam, Moon-Gwang malah membuka bungker rahasia di lantai bawah, yang ditinggali oleh suaminya. Hanya Moon-Gwang yang tahu bungker tersebut.
Saat di bungker itu juga, keluarga Ki-Woo ketahuan sedang membohongi pemilik rumah oleh Moon-Gwang.
Film ini menggambarkan bagaimana sifat-sifat manusia, dengan perbedaan kehidupan kelas sosial mereka. Ada adegan ayah Ki-Woo menusuk Mr. Park. Penyebabnya sepele, Mr. Park mempermasalahkan bau badan. Sebetulnya itu hanya obrolan remeh yang dapat dilakukan oleh siapa saja. Mungkin, kalau yang mengatakannya orang-orang terdekat keluarga Ki-Woo, hal tersebut tak bakal jadi masalah. Namun, karena itu diucapkan oleh Mr Park, hal tersebut jadi terdengar sebagai penghinaan yang tak termaafkan, yang dapat memancing emosi ayah Ki-Woo.
Keluarga Mr. Park sebetulnya keluarga yang biasa saja. Terlalu biasa malahan. Misalnya: Mereka dengan mudah memecat sopir lamanya karena pancingan adik Ki-Woo. Setelah termakan pancingan adik Ki-Woo, mereka kemudian membangun asumsi-asumsi, tanpa ada verifikasi, dan mengambil kesimpulan berdasarkan asumsi mereka sendiri. Sama seperti kebanyakan orang yang ada di muka bumi ini.
Saya dan orang-orang yang ada di bioskop, yang awalnya tertawa-tawa menonton adegan-adegan lucu dalam film, terdiam menjelang akhir film. Saya tak tahu apa alasan mereka. Sedangkan buat saya, film tersebut membawa saya melihat kembali, bagaimana perbedaan kelas sosial dapat dengan mudah membakar amarah orang.
Ketiga. Saya juga baru saja selesai membaca The Hole karya Pyun Hey-Young. Ini tentang orang yang mulai menyerah dengan keadaan. Novel ini berkisah tentang Oh Gi, penyintas kecelakaan, yang sebagian tubuhnya hancur, dan hampir dipastikan tak dapat sembuh betul. Istrinya meninggal karena kecelakaan itu. Mertuanya, yang sepertinya memendam amarah kepada Oh Gi karena kehidupan masalalu Oh Gi, tak benar-benar serius merawatnya. Ia merasa bimbang. Di satu sisi, ia ingin sembuh kembali. Tapi di sisi lain, ia galau, apakah dapat menjalani hidupnya seperti sediakala dengan tubuhnya yang sudah remuk.
Terkadang hidup melenceng jauh dari rencana kita. Misalnya saja, apa yang dialami oleh Oh Gi. Ia gagal berbaikan dengan istrinya karena kecelakaan. Mimpi-mimpinya juga ikutan kandas karena kecelakaan tersebut. Tak jauh berbeda dengan Oh Gi, Keluarga Ki-Woo juga mengalami hal yang sama. Kejadian di rumah Mr. Park juga di luar rencana mereka dan membikin panik.
Ayah Ki-Woo mengatakan kalau apa-apa saja yang direncanakan pasti akan berakhir dengan kegagalan. Menurutnya rencana terbaik adalah menjalankan semuanya tanpa rencana, sehingga mereka tak akan berjumpa dengan kegagalan.
Lalu, apakah dengan begitu kita tak boleh membuat rencana dalam hidup kita, hanya untuk menghindari sebuah kegagalan?