Jumat, 28 Juni 2019

Hal-Hal yang datangnya dari Korea Selatan

Dalam beberapa hari terakhir ini, entah kenapa saya merasa dekat betul dengan Korea Selatan. Pertama. Lini masa media sosial saya berseliweran berita tentang Song Joong-Ki karena teman-teman saya. Katanya beliau hendak bercerai. Saya tak begitu paham apa penyebab perceraian mereka, tetapi, sepertinya itu berita duka bagi teman-teman saya. Memang, perpisahan selalu menyedihkan bagi siapa saja. 
Kedua. Saya semalam menonton film Parasite garapan Bong Joon-Ho. Saya menyempatkan diri menonton film tersebut, selain karena saya suka film bikinan Bong Joon-Ho, film tersebut juga mendapat palm d’or (penghargaan untuk film terbaik) di festival film Cannes 2019. 
Parasite bercerita tentang keluarga miskin, yang tiba-tiba mendapat pekerjaan di rumah orang kaya. Pekerjaan pertama datang kepada si anak laki-laki yang bernama Ki-Woo. Ia diminta menggantikan kawannya memberikan les bahasa Inggris pada anak perempuan keluarga kaya tersebut. Kemudian si anak perempuan, yang direkomendasikan oleh kakaknya, menjadi guru menggambar bagi anak laki-laki di rumah si keluarga kaya. Kemudian sang ayah berkesempatan menjadi sopir, kemudian sang ibu menjadi pembantu rumah tangga. 
Mereka datang ke rumah keluarga kaya tersebut dengan latar keluarga yang berbeda, dan bekerja seolah-olah tak mengenal satu sama lain. 
Awalnya semua berjalan dengan lancar, hingga pembantu rumah tangga lama, yang bernama Moon-Gwang, datang lagi ke rumah Mr. Park. 
Ketika keluarga Mr. Park pergi berkemah, Moon-Gwang datang ke rumah, sambil memelas, meminta dibukakan pintu. Katanya ia hanya ingin mengambil barang. Namun, begitu masuk ke dalam, Moon-Gwang malah membuka bungker rahasia di lantai bawah, yang ditinggali oleh suaminya. Hanya Moon-Gwang yang tahu bungker tersebut.
Saat di bungker itu juga, keluarga Ki-Woo ketahuan sedang membohongi pemilik rumah oleh Moon-Gwang.
Film ini menggambarkan bagaimana sifat-sifat manusia, dengan perbedaan kehidupan kelas sosial mereka. Ada adegan ayah Ki-Woo menusuk Mr. Park. Penyebabnya sepele, Mr. Park mempermasalahkan bau badan. Sebetulnya itu hanya obrolan remeh yang dapat dilakukan oleh siapa saja. Mungkin, kalau yang mengatakannya orang-orang terdekat keluarga Ki-Woo, hal tersebut tak bakal jadi masalah. Namun, karena itu diucapkan oleh Mr Park, hal tersebut jadi terdengar sebagai penghinaan yang tak termaafkan, yang dapat memancing emosi ayah Ki-Woo.
Keluarga Mr. Park sebetulnya keluarga yang biasa saja. Terlalu biasa malahan. Misalnya: Mereka dengan mudah memecat sopir lamanya karena pancingan adik Ki-Woo. Setelah termakan pancingan adik Ki-Woo, mereka kemudian membangun asumsi-asumsi, tanpa ada verifikasi, dan mengambil kesimpulan berdasarkan asumsi mereka sendiri. Sama seperti kebanyakan orang yang ada di muka bumi ini.
Saya dan orang-orang yang ada di bioskop, yang awalnya tertawa-tawa menonton adegan-adegan lucu dalam film, terdiam menjelang akhir film. Saya tak tahu apa alasan mereka. Sedangkan buat saya, film tersebut membawa saya melihat kembali, bagaimana perbedaan kelas sosial dapat dengan mudah membakar amarah orang.
Ketiga. Saya juga baru saja selesai membaca The Hole karya Pyun Hey-Young. Ini tentang orang yang mulai menyerah dengan keadaan. Novel ini berkisah tentang Oh Gi, penyintas kecelakaan, yang sebagian tubuhnya hancur, dan hampir dipastikan tak dapat sembuh betul. Istrinya meninggal karena kecelakaan itu. Mertuanya, yang sepertinya memendam amarah kepada Oh Gi karena kehidupan masalalu Oh Gi, tak benar-benar serius merawatnya. Ia merasa bimbang. Di satu sisi, ia ingin sembuh kembali. Tapi di sisi lain, ia galau, apakah dapat menjalani hidupnya seperti sediakala dengan tubuhnya yang sudah remuk. 
Terkadang hidup melenceng jauh dari rencana kita. Misalnya saja, apa yang dialami oleh Oh Gi. Ia gagal berbaikan dengan istrinya karena kecelakaan. Mimpi-mimpinya juga ikutan kandas karena kecelakaan tersebut. Tak jauh berbeda dengan Oh Gi, Keluarga Ki-Woo juga mengalami hal yang sama. Kejadian di rumah Mr. Park juga di luar rencana mereka dan membikin panik. 
Ayah Ki-Woo mengatakan kalau apa-apa saja yang direncanakan pasti akan berakhir dengan kegagalan. Menurutnya rencana terbaik adalah menjalankan semuanya tanpa rencana, sehingga mereka tak akan berjumpa dengan kegagalan. 
Lalu, apakah dengan begitu kita tak boleh membuat rencana dalam hidup kita, hanya untuk menghindari sebuah kegagalan?

Rabu, 03 April 2019

Panic Attack

Hal yang menyenangkan dari duduk dengan teman lama saya adalah: saya beroleh informasi tentang apa yang terjadi dengan teman-teman kami sekarang ini. Salah seorang teman saya bercerita, kalau ia sedang menderita panic attack. Ia sering merasa ketakutan, tetapi tak dapat menjelaskan apa penyebabnya. Terkadang ia jadi susah bernafas, dan terkadang tubuhnya gemetaran juga. Karena baru tahu ada penyakit seperti itu, saya tak mampu memberi saran apa yang harus ia lakukan.
Malamnya saya sempat browsing sebentar untuk mencari tahu. Dari apa yang saya baca, penyebab utamanya adalah rasa stres yang berlebih. Kalau cara mengatasinya, mungkin orang yang mengalaminya perlu memperbanyak melakukan hal-hal yang menyenangkan. Semisal: main-main keluar. Atau, bisa juga bercerita pada orang lain tentang perasaannya supaya perasaannya lebih lega.
Karena teman saya bercerita apa yang sedang ia alami, saya menyimpulkan kalau ia sedang berupaya mengobati dirinya sendiri.
Teman saya yang lain bercerita kalau salah seorang teman kami kondisinya sedang mengkhawatirkan. Ia sering ngamuk-ngamuk sendiri karena masalah percintaannya dengan perempuan yang ia suka. Penyebabnya terkadang sepele. Karena mengumpat mungkin dapat menentramkan hatinya, kami tak memarahinya.
Belakangan, teman saya yang sedang jatuh cinta tersebut mulai mengesalkan karena tak bisa mengontrol dirinya sendiri. Setiap kali ia bertemu dengan salah seorang dari kami, kami harus mendengarkan ceritanya. Ia selalu meminta saran, tapi, hampir dipastikan ia akan mengabaikannya. Logikanya kalah oleh rasa cintanya yang cukup dalam. Sangat menjengkelkan memang. Juga mengkhawatirkan.
Namun, sepertinya, kondisinya mulai membaik. Kami kemarin bertemu dan ia sudah tak uring-uringan lagi. Sudah tak banyak keluhan yang ia katakan kepada saya. Jadi saya tak perlu repot-repot memberi saran. Mungkin, ia mulai bisa memahami keadaan, kalau kisah cintanya sudah tak bisa dilanjutkan.
Saya sendiri juga bercerita kepada teman saya tentang kesehatan tubuh saya. Saya sempat cek asam urat dan hasilnya asam urat saya lumayan tinggi. Mungkin ini penyebabnya, kenapa akhir-akhir ini tubuh saya sering pegal-pegal. Akhirnya, saya memutuskan, dalam beberapa waktu ke depan, mau tak mau, saya harus mengucapkan selamat tinggal pada uritan.