Senin, 03 Desember 2018

Kenang-Kenangan Menakjubkan si Beruang Kutub, Claudio Orrego Vicuna

Salah satu bagian yang menarik adalah: ketika sang beruang menceritakan tentang bagaimana tukang bersih-bersih kandangnya datang ke kebun binatang. Tukang bersih-bersih tersebut datang dengan pakaian seadanya, yang dapat mendatangkan rasa iba. Namun, begitu berganti pakaian, semuanya berubah. Ia menjadi culas dan penuh keangkuhan, memerintah--bahkan memukul--binatang di kandang seenaknya sendiri.
Bukan hanya bapak tersebut, sepertinya naluri seorang manusia memang seperti itu ketika memiliki kesempatan. Orang ingin menjadi lebih hebat di depan orang lain --atau di depan para binatang untuk kasus bapak tersebut. Orang ingin menjadi lebih hebat karena itu menyenangkan. Coba kau bayangkan jika kau punya kekuatan? Kau dapat memerintah orang lain, kau dapat memiliki apa yang kau ingin. Untuk memuaskan batinmu tentu saja. Jadi kau tak perlu repot. Menyenangkan tentu saja?
Bahkan, semenjak manusia belum mengenal tulisan, mereka sudah tahu bagaimana cara berkuasa. Mereka akan saling serang, yang pertama-tama karena makanan. Kemudian, beberapa ratus tahun kemudian, karena teritori. Masalah tersebut berlanjut hingga sekarang. Malahan, sekarang lebih banyak hal yang dapat dipermasalahkan untuk menunjukan kekuatan. Misalnya saja: saling serang antara pendukung pasangan calon presiden.
Lalu apa yang kau harapkan dari manusia supaya kehidupan ini membaik? Atau mungkin lebih baik aku ganti pertanyaannya menjadi seperti ini; lalu bagaimana membuat mereka sadar? Mengesalkan, bukan?
Terkadang saya juga gemas sendiri ketika membaca lini masa media sosial saya. Mereka lebih suka bertengkar daripada bertukar pikiran. Apakah meminta mereka untuk bertingkah seperti orang yang terdidik sudah usang? Kalau belum, ya, tolong ya.
Bagian lain buku ini masih berisi tentang cara si beruang memandang para manusia. Ia tak habis pikir bagaimana manusia merasa terkekang padahal berada di luar dan dapat melakukan apa saja, berbeda dengan dirinya. Bahkan sang beruang merasa lebih bebas hidupnya padahal ia tinggal di sebuah kandang. Kocak, kan?