Senin, 02 Juli 2018

Bagaimana Krisis Seperempat Abad Mengganggu Saya dan Teman-Teman Saya

Beberapa hari yang lalu saya dan beberapa teman saya sempat membahas status di media sosial salah seorang teman kami juga. Status yang diunggah tersebut berbunyi kurang lebih seperti ini: ia merasa kalau hidupnya penuh nyinyiran. Ia juga tak habis pikir, kenapa di hidupnya selalu bertemu dengan orang-orang seperti itu, dan memanggil orang-orang tersebut dengan sebutan makhluk bermental sampah. Karena di status tersebut tak ada nama yang disebutkan, saya hanya bisa menduga-duga siapa orang yang ia maksud.
Memang orang-orang bermental sampah itu berbahaya. Ia pergi kemana-mana dan mengedarkan bau yang tidak sedap, serta membikin orang-orang yang dekat dengannya dapat tertular. Kau harus cepat-cepat mandi dan mencuci bajumu ketika bertemu dengan orang-orang semacam itu, supaya bau tersebut dapat segera hilang dari tubuhmu.
Di luar isi statusnya, saya merasa ada ketidakbahagiaan di sana, dan sedang ia ungkapkan semuanya dalam bentuk status panjang. Dengan begitu, mungkin apa-apa yang mengganjal di dalam dadanya dapat segera lenyap (kalau saya tidak salah menyimpulkan).
Sebetulnya, banyak teman-teman saya merasakan apa yang sedang ia rasakan. Mereka sedang tidak baik-baik saja. Mereka sedang berada di dalam masa, dimana semua hal yang ada di dunia ini tak sama dengan apa yang mereka harapkan sebelumnya. Dulu mereka beranggapan bekerja dan memperoleh penghasilan sendiri itu menyenangkan, ternyata malah merepotkan. Dulu mereka beranggapan setelah menikah hidupnya semakin indah, ternyata tidak juga. Dan lain-lain dan lain-lain dan lain-lain.
Cara mereka untuk menumpahkan kekesalannya pun bermacam-macam, dan kebanyakan dari mereka menggunakan media sosial sebagai sasaran empuk. Ada yang menulis dengan berapi-api penuh kekesalan, ada yang membagi kalimat motivasi dan menjadi bijak, ada yang membadut dengan melempar lawakan-lawakan sehingga perasaan mereka menjadi lega. Dalam film fight club, tokoh utamanya memilih masuk dalam kelab adu gebuk untuk menghilangkan stres yang menderanya.
Tak berbeda jauh dengan teman-teman saya, saya juga merasakan hal yang sama. Saya selalu merasa ada sosok lain dalam diri saya, yang berusaha menguasai tubuh ini, untuk menjadi apa yang ia mau. Ia meminta saya melakukan ini dan itu, membikin saya susah untuk tidur. Ia menciptakan kecemasan dalam diri saya, menebar ketakutan ketika saya sedang tidak melakukan apa-apa. Sebetulnya, ketika sedang tidak melakukan apa-apa, saya hanya ingin beristirahat.
Jangankan orang seperti saya, banyak pesohor kelas dunia yang sedang dalam puncak karirnya pun mengalami hal serupa. Bahkan, mereka terkadang gagal melewati krisis tersebut, dan memutuskan mengakhirinya hidupnya, sebagai cara untuk menyelesaikan masalah yang sedang mereka alami. Kurt Cobain, misalnya.
Sekarang ini harapan saya sederhana: semoga hal menyebalkan semacam ini dapat segera berlalu.