Sabtu, 18 November 2017

Meremukkan Celengan Babi

Etgar Keret 


Bapak tidak membelikanku mainan Bart Simpson. Ibu sebetulnya menyetujui permintaanku, tetapi bapak mengatakan kalau aku terlalu dimanjakan. “Mengapa kita harus, hem?” Ucapnya kepada ibu. “Mengapa kita harus membelikannya? Setiap kali ia merengek kau selalu meleleh.”
Bapak mengatakan kalau aku tidak menghargai uang, dan kalau aku tak mempelajarinya ketika masih bocah lalu kapan lagi? Bocah yang memiliki mainan Bart Simpson dengan mudah, kelak akan tumbuh menjadi seorang preman yang suka memalaki warung. Jadi, sebagai ganti mainan Bart Simpson, ia membelikanku seekor babi jelek buatan China yang memiliki lubang di punggungnya, sehingga aku dapat menjadi bocah baik, bukan preman tukang palak.
Sekarang setiap pagi aku harus menenggak segelas coklat, walaupun aku tidak suka. Coklat dengan kulitnya berarti satu shekel, tanpa kulit berarti setengah shekel, dan ketika aku memuntahkannya berarti aku tak mendapat apapun. Aku lantas memasukkan uang itu ke dalam celengan babiku dan sewaktu digoyang-goyangkan akan terdengar suara gemerincing. Ketika celengan babi itu penuh dan tak ada lagi suara gemerincing ketika digoyang-goyangkan, aku akan mendapat mainan Bart Simpson beserta skateboarnya. Itu yang bapak katakan, itulah pendidikan yang sesungguhnya.
Sebenarnya babi itu imut, hidungnya dingin ketika kau mencoba untuk menyentuhnya, dan tersenyum ketika kau memasukkan satu shekel ke punggungnya, dan masih tersenyum ketika memasukkan setengah shekel, dan walaupun kau tak memasukkan apapun ia akan tetap tersenyum. Aku memberinya nama Pesachson, sama seperti nama pemilik kotak surat di rumah sebelum kami, yang namanya tak bisa dilepas oleh bapak.
Pesachson tak seperti mainanku yang lain, ia sangat kalem, tanpa lampu dan per dan baterai yang sewaktu-waktu dapat rusak. Ia hanya perlu diawasi supaya tak melompat dari meja. “Pesachson, hati-hati! Kau buatan China,” ucapku ketika melihat ia tampak membungkuk dan manatap lantai, kemudian tersenyum sambil menungguku menurunkannya.
Aku tergila-gila kepadanya ketika tersenyum, dan hanya untuknya aku meminum segelas coklat dengan kulitnya setiap pagi, sehingga aku dapat memasukkan satu shekel ke punggungnya dan melihat bagaimana senyumnya tak pernah berubah sedikit pun.
“Aku mencintaimu Pesachson,” ucapku kepadanya, “Bahkan melebihi cintaku kepada ibu dan bapakku. Dan aku akan selalu mencintaimu, tak peduli apakah kau seorang preman tukang palak warung. Jadi, jangan punya pikiran untuk melompat dari meja.”
Kemarin bapak datang, mengambil Pesachson dari meja, dan mengoyang- goyangkannya dengan kejam.
“Hati-hati, pak,” ucapku, “Bapak bisa membikinnya mual.”
Tetapi ia tak menggubrisku.
“Perutnya sudah tak berbunyi lagi, kau tahu artinya, Yoavi? Besok kau akan dapat Bart Simpson bersama skateboarnya.”
”Bagus pak,” jawabku. “Bart Simpson dengan skateboarnya sangat keren. Tapi tolong berhenti menggoyang-goyangkan tubuh Pesachson, itu membikinnya menjadi buruk.”
Bapak meletakkan kembali Pesacshon ke atas meja dan memanggil ibu. Ia kembali beberapa saat kemudian, bersama ibu dan membawa sebuah palu.
“Lihat, aku benar, kan?” ucapnya kepada ibu. “Sekarang ia tahu bagaimana cara menghargai sesuatu. Iya kan, Yoavi?”
“Tentu saja aku tahu,” Jawabku. “Tapi buat apa membawa palu segala?”
“Ini untukmu,” ucap bapak dan memberikan palu itu kepadaku. “Berhati-hatilah.”
“Tentu saja aku akan berhati-hati,” ucapku.
Aku hanya diam dan memegang palu dengan berhati-hati, hingga bapak mulai kesal dan berkata, “Ayolah, cepat remukkan babi itu.”
“Apa?” tanyaku, “Meremukkan Pesachson?”
“Iya, iya, Pesachson,” ucap bapak. “cepat pukul hingga remuk. Kau pantas mendapatkan Bart Simpson, kau sudah bekerja keras untuk memperolehnya.”
Pesachson memamerkan senyumnya dengan tampang sedih seperti seekor babi yang tahu ajalnya sudah dekat. Persetan dengan Bart Simpson. Aku membunuh temanku sendiri dengan sebuah palu?
“Aku tidak menginginkan Bart lagi,” ucapku sambil mengembalikan palu milik bapak. “Pesachson sudah cukup.”
“Kau tak mengerti,” ucap bapak. “Ini yang benar, ini mendidik, kemarikan, biar bapak yang meremukkannya untukmu.”
Bapak mulai mengangkat palunya, sedangkan aku mulai memandangi mata ibu yang tampak cemas dan senyum lelah Pesachson dan ini kesempatan terakhirku, kalau aku tidak menghentikan bapak, Pesachson akan mati.
“Pak,” aku mencoba memeluk kakinya.
“Ada apa, Yoavi?” tanya bapak masih sambil memegangi palu dan mengangkat lengannya.
“Aku ingin satu shekel lagi,” ungkapku. “Aku masih ingin memasukan satu shekel lagi ke perut Pesachson, besok, setelah meminum coklat. Baru setelah itu kita akan meremukkannya bersama, aku berjanji.”
“Satu shekel lagi?” tanya bapak sambil tersenyum dan meletakkan palunya di atas meja.
“Bagaimana, lihatlah? Aku mulai dapat membangun kepedulianku,” ucapku. “Besok.”
Dan air mata sudah berada di tenggorokanku.
Ketika Bapak meninggalkan kami aku memeluk erat Pesachson sambil menangis. Pesachson tak mengatakan apapun, hanya terdiam dalam pelukanku.
“Jangan khawatir,” aku berbisik kepadanya. “Aku akan menyelamatkanmu.”
Malamnya aku menunggu bapak menyelesaikan tontonannya dan pergi tidur. Aku lantas mengendap-endap, berjalan melewati beranda bersama Pesachson. Kami berjalan bersama dalam kegelapan hingga lumayan jauh, hingga tiba di sebuah tanah lapang yang berduri.
“Babi menyukai tanah lapang,” ucapku sambil meletakkan Pesachson ke tanah. “Apalagi penuh dengan duri. Kau akan kerasan di sini.”
Aku menunggu jawaban tetapi Pesachson tidak mengucapkan sepatah kata pun, dan ketika aku menyentuh hidungnya sebagai salam perpisahan ia menatapku dengan sedih. Ia tahu kalau kita tak akan bertemu lagi.