Senin, 01 Mei 2017

Sedikit Obrolan Saya dengan Kawan Saya Kemarin Malam

Kemarin malam, ponsel saya berbunyi, dan ketika saya tengok, ada sebuah pesan dari kawan saya. Ia mengajak saya untuk duduk-duduk dan mengobrol di warung kopi. Tanpa banyak alasan saya segera menyetujui ajakan itu, karena saya sendiri sedang tidak ada acara. Ditambah lagi ia bersedia menjemput saya di rumah, jadi, saya tak perlu repot-repot mengendarai kendaraan seorang diri. Setelah menunggu cukup lama, ia datang dengan mengubar senyumnya, dan tanpa berbasa-basi kami segera berangkat.
Saya lumayan bersemangat karena beberapa kawan saya yang merantau pulang. Kami sudah lama tak bertemu, dan guyonan-guyonan mereka lebih sering mendinginkan isi kepala saya, yang sering pening karena beragam hal.
Sesampainya di tempat tujuan, beberapa kawan saya yang lain sudah berada di warung kopi tersebut. Mereka sudah mengobrol dan tertawa-tawa, membuat saya penasaran candaan apa yang sudah saya lewatkan. Setelah memesan, saya duduk dan ikut berbual dengan mereka.
Kami berbincang apa saja, termasuk beberapa hal penting, dan lebih banyak hal yang tidak penting.
Salah seorang kawan saya --yang datang paling belakangan, sangat memuja gubernur yang dianggap oleh sebagian orang menistakan agama. Jadi, saya sudah siap kalau ia akan bercerita perkara tersebut. Contoh: tentang karangan bunga yang memenuhi jalanan.
Tebakan saya sedikit meleset. Ia tak bercerita tentang gubernur tersebut, melainkan kejadian yang dialami seorang habib, yang menentang gubernur tersebut. Katanya, habib itu nyaris mati karena ditembak dengan sniper oleh orang yang tidak dikenal. Setelah berhasil selamat, habib tersebut segera pergi ke luar negeri untuk menyelamatkan diri. Sebetulnya ceritanya tak bisa dibuktikan karena ketika saya coba mencari di internet, tak ada berita resmi tentang kasus penembakan yang ia ceritakan. Namun, saya menikmati ceritanya karena lebih menghibur daripada berita-berita asli yang beredar di surat kabar.
Kawan saya menduga orang yang menyewa tukang tembak itu mengambil paket yang paling murah untuk membunuh orang sehingga gagal.
“Pasti tukang tembak itu sedang bercanda dengan kawan di sebelahnya sehingga meleset. Coba saja ia ambil paket yang dua bonus satu, mungkin ceritanya akan lain,” ucapnya dengan yakin.
Kami tertawa.
Kawan saya juga bercerita tentang bisnisnya yang gagal karena ditipu oleh orang lain. Ia bercerita dengan tampang menyedihkan, dengan mata yang berembun, dan setiap kata yang ia ucapkan diselingi dengan umpatan. Terakhir, tanpa merasa kapok, ia berujar kalau akan mencoba bisnis baru.
Kami juga bercerita tentang perkara-perkara lain. Semisal: tentang lagu populer yang mengingatkan kami pada sinetron Meteor Garden, tentang pekerjaan kami masing-masing dan bagaimana cara menikmatinya, tentang para pengusaha yang memilih jalur politik, dan tentang hal-hal curang yang dilakukan oleh para pengusaha ataupun anggotan dewan. Lalu, ketika ada pertanyaan mengenai perilaku orang-orang yang berbuat curang tersebut dapat diobati atau tidak, kami semua terdiam karena tak benar-benar tahu jawabannya.