Rabu, 09 Maret 2016

PAN

(Knut Hamsun)


I
Akhir-akhir ini aku hanya merenung dan terus merenungkan musim panas Nordland, termasuk hari-hari terakhir yang telah kujalani. Aku duduk di sini dan memikirkannya, di gubukku, bersama tumpukan kayu yang terhampar di belakang gubuk. Lalu menuliskannya, sekedar membuang waktu; untuk menghibur diriku sendiri, tidak lebih. Waktu berjalan sangat lamban; aku tidak dapat semauku mempercepatnya, walaupun berlalu tanpa kesedihan, ataupun hari-hari yang menyenangkan. Aku baik-baik saja dengan hal itu, lagi pula, umur tiga puluh bukan umur untuk mengeluh.
Beberapa hari yang lalu seseorang mengirimiku dua bulu. Dua bulu burung di lembaran catatan-kertas bertanda, dan diikat dengan segel. Dikirim dari tempat yang jauh; dari seseorang yang tak berharap bulu itu dikembalikan. Yang mengejutkan, itu adalah dua bulu hijau yang menakutkan.
Dan sisanya tidak ada masalah, kecuali nyeri di kaki kiriku, dari bekas luka tembakan, yang telah lama sembuh.
Dua tahun yang lalu, aku masih ingat, waktu berjalan sangat cepat –dibandingkan saat ini tentu saja. Musim panas terlewat sebelum aku menyadarinya. Dua tahun lalu, itu tahun 1855. Aku akan menuliskannya untuk menghibur diriku sendiri –sesuatu yang terjadi kepada diriku, atau sebenarnya yang aku impikan. Sekarang aku memang melupakan banyak hal yang terjadi pada waktu itu, ketika mencoba mengingatnya. Tapi aku ingat kalau masa itu malam sangat terang. Dan banyak hal terlihat mengherankan dan tidak biasa. Dua belas bulan dalam setahun –dengan malam yang nampak seperti siang, tidak pernah terlihat bintang di langit. Orang yang aku temui terlihat asing, serta lingkungan yang berbeda dari yang sudah kukenal selama ini; terkadang semalam saja sudah cukup untuk membuat mereka tumbuh dari masa kanak-kanak menuju era emas mereka, matang dan dewasa. Aku tidak membodohi; hanya saja aku belum pernah melihat yang seperti ini sebelumnya. Sama sekali.
Di dekat rumah putih besar yang terletak di pinggir pantai, aku bertemu dengan seseorang yang kelak akan mengganggu pikiranku untuk beberapa waktu. Aku tak pernah memikirkannya sekarang; tidak. Bahkan aku sudah lupa. Tapi, dari semua hal yang berjejal di kepalaku: nyanyian burung laut, saat-saat mencari kayu, kesunyian malam, dan suasana gerah pada musim panas, itu hanya sebuah aksi heroik kecil atas kecelakaan yang terjadi pada dirinya. Ia kemudian hilang begitu saja dalam pikiranku untuk beberapa hari.
Dari gubukku, terlihat batu dan karang dan pulau, sebagian lautan, puncak bukit yang biru, dan di belakang rumah hutan berdiri. Sebuah hutan yang cukup besar, yang menyenangkan dengan aroma akar dan daun, centang dari cemara getah, yang aromanya seperti sumsum. Hanya hutan lah yang mampu menenangkanku; membikin otakku menjadi relaks dan nyaman. Setelah aku menginjakkan kaki di pinggir hutan ini bersama Aesop, tidak ada lagi pikiran untuk pindah dari hari-kehari, dan hanya memikirkan tentang tanah yang dirayapi salju. Sekarang aku tidak bersama Aesop; ini Cora. Tapi, waktu itu aku memang bersama Aesop, anjing yang kelak akan kutembak mati.
Terkadang pada sore hari, saat aku kembali ke rumah dari berburu seharian, aku merasakan hal yang menyenangkan dari ujung kaki hingga ubun-ubun –membuatku sedikit menggigil. Dan aku mencoba bertanya kepada Aesop, bagaimana nyamannya tempat ini. “Sekarang kita akan membuat api, lalu membakar burung di atas tungku,” aku melanjutkan, “Bagaimana pendapatmu?”. Dan setelah matang, kami memakannya, lalu Aesop menyelinap ke tempat persembunyiannya di dekat tungku, sedangkan aku menyalakan pipa rokokku dan bermalas-malasan di atas kursi untuk beberapa saat, mendengarkan nyanyian pepohonan. Adapula suara angin sepoi-sepoi yang malas menghantam gubukku, serta suara berisik burung belibis yang tak jauh dari punggung bukit. Selalu seperti itu.
Seringkali aku tertidur ketika melakukan hal itu, dengan menggunakan pakaian berburu tanpa berganti terlebih dahulu, dan tidak akan bangun sebelum burung laut memekik. Lalu, melirik keluar dari balik jendela, melihat bangunan yang berwarna putih dan besar, tempat berdagang di Girilund, dimana aku biasanya membeli roti. Aku akan menghibur diriku, dengan tercengang, bagaimana aku dapat sampai di sini, di sebuah gubuk di pinggir hutan, sebuah tempat di Nordland.
Lalu Aesop yang berada di samping perapian akan bergerak-gerak cukup lama, meluruskan tubuhnya, menggelengkan lehernya, menguap dan mengibaskan ekornya, dan aku akan berdiri, setelah tertidur selama kurang lebih tiga sampai empat jam, dengan tenaga yang telah terisi penuh dan sangat menikmati semuanya… semuanya.
Malam-malamku biasanya terlewat seperti itu.